Bandung, awal 80-an. Seorang siswa SMA Negeri 2 Bandung mungkin belum membayangkan dirinya akan memimpin pasukan paling elit di Indonesia. Tapi itulah jalan yang ditempuh Djon Afriandi, yang kini kita kenal sebagai Letnan Jenderal TNI, Pangkopassus.
Pria ini resmi memegang tampuk pimpinan Komando Pasukan Khusus itu pada sebuah upacara militer di Pusdiklatpassus, Batujajar. Hari itu Minggu, 10 Agustus 2025. Acaranya bernama Gepaopshormil singkatan panjang yang biasa di dunia militer. Di sana, dia tak sendirian. Bersamanya dilantik juga dua panglima pasukan elite lain: Mayjen TNI (Mar) Endi Supardi untuk Korps Marinir dan Marsda TNI Deny Muis untuk Pasukan Gerak Cepat.
Pelantikan itu sekaligus menandai perubahan penting dalam struktur organisasi. Sebelumnya, jabatan untuk ketiga pasukan itu dipegang oleh perwira bintang dua dengan sebutan "Komandan". Berdasarkan Perpres No 84 Tahun 2025, posisinya dinaikkan menjadi bintang tiga dan berganti sebutan menjadi "Panglima". Naiknya pangkat Djon dari Mayjen menjadi Letjen adalah konsekuensi logis dari penugasan barunya ini.
Kalau menelusuri riwayat pendidikannya, track record Djon memang cemerlang. Jejak akademisnya dimulai dari SDN Sukarasa di Bandung, lalu berlanjut ke SMPN 5 dan akhirnya SMA favorit, SMAN 2 Bandung. Titik baliknya terjadi di Magelang. Dia memutuskan masuk Akademi Militer dan lulus pada 1995 dengan predikat terbaik. Prestasi itu dibuktikan dengan diraihnya penghargaan bergengsi Adhi Makayasa dari satuan Infanteri Kopassus.
Karier militernya, boleh dibilang, dihabiskan di korps baret merah. Dia mengawali segalanya dari posisi paling dasar di Grup 1 Kopassus. Mulai dari Danton di Yon 13 pada 1997, lalu bertugas di Yon 11 setahun berikutnya. Perlahan tapi pasti, tanggung jawabnya bertambah. Pada 2002, dia sudah menjabat sebagai Komandan Kompi.
Namun begitu, seorang perwira elite tak cuma dinilai dari komando di lapangan. Kemampuannya juga diakui melalui berbagai brevet dan kualifikasi khusus yang disandangnya. Djon memiliki brevet Penanggulangan Teror (Gultor) dan Pandu Udara (Pathfinder). Tak ketinggalan, ada juga brevet penerbang dari sejumlah negara sekutu seperti Singapura, Amerika Serikat, hingga Korea Selatan. Pengalaman internasionalnya jelas tak diragukan lagi.
Di sisi lain, ada momen penting yang mungkin masih diingat publik. Pada 2024, dialah yang bertindak sebagai Komandan Upacara peringatan HUT ke-79 TNI di Silang Monas. Sebuah tugas kehormatan yang tak diberikan ke sembarang orang.
Perjalanannya tak melulu di Kopassus. Djon sempat merasakan tugas di lingkungan Istana Negara sebagai bagian dari Pasukan Pengamanan Presiden. Dia menjabat sebagai Wadan Grup A Paspampres sekitar tahun 2011-2013. Setelah itu, barulah dia kembali ke kesatuannya, menduduki posisi sebagai Asisten Operasi Danjen, lalu Komandan Grup 1.
Jabatannya kemudian beragam. Sempat menjadi Koorspri KSAD, lalu Komandan Korem 012/Teuku Umar di Aceh. Pecah bintang satu terjadi saat dia dipromosikan memimpin Resimen Taruna Akmil pada 2022. Ini jadi persiapan yang matang. Setelah menjalani pendidikan di Lemhannas, dia ditunjuk sebagai Staf Khusus KSAD.
Puncaknya? Februari 2024, dia diangkat menjadi Danjen Kopassus. Dan seperti sudah ditakdirkan, kurang dari setahun kemudian, tepatnya Agustus 2025, dia resmi menjadi orang nomor satu di pasukan khusus itu. Dari Bandung ke Batujajar, dari taruna berprestasi menjadi jenderal berbaret merah. Perjalanan yang panjang, tapi terlihat sangat natural baginya.
Artikel Terkait
Praka Rico Pramudia Gugur Akibat Ledakan Tank Israel saat Bertugas di Misi Perdamaian PBB Lebanon
Bandara Madinah Siapkan Layanan Gratis Kursi Roda dan Mobil Golf untuk Jamaah Haji Lansia dan Disabilitas
Bank bjb Perkuat Sinergi Pembangunan Daerah di Banten Lewat Kolaborasi Strategis
Hunian Gudang Modern di Greater Jakarta Tembus 95,8 Persen, Pasokan Terbatas Picu Persaingan Ketat