Gejolak harga minyak global ternyata membawa angin segar bagi industri teknologi hijau China. Di tengah situasi genting akibat perang di Timur Tengah, data Maret 2026 menunjukkan ekspor produk energi bersih negeri Tirai Bambu itu justru melesat tajam.
Menurut laporan Bloomberg yang dirilis Selasa lalu, lonjakan paling signifikan terjadi pada kendaraan listrik dan baterai lithium-ion. Ekspor EV China, misalnya, melonjak 53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angkanya tak kalah impresif untuk baterai, yang tumbuh 34 persen.
“Ini baru permulaan,” ujar Euan Graham, Analis Senior di lembaga think tank Ember yang berbasis di Inggris.
Dia memprediksi efek domino dari harga energi yang tinggi akan terus terasa selama berbulan-bulan ke depan. Menurutnya, teknologi bersih kini dilihat sebagai solusi instan untuk menghemat biaya sekaligus strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“China berada di posisi yang baik untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat ini,” tambah Graham.
Di sisi lain, sektor sel surya juga tak mau kalah. Pertumbuhannya bahkan lebih fantastis, mencapai 80 persen pada Maret. Yang menarik, ketiga komoditas ini tak hanya naik secara year-on-year, tapi juga menunjukkan peningkatan yang solid dibandingkan pencapaian bulan Februari.
Data ini menjadi gambaran awal yang menarik. Pasalnya, angka-angka itu muncul setelah tujuh minggu Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Serangan itu memicu efek berantai: Selat Hormuz praktis ditutup, dan krisis energi global pun tak terhindarkan.
Kondisinya memang rumit. Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali besok, dampaknya tidak akan hilang dalam semalam. Butuh waktu berbulan-bulan dengan asumsi perdamaian permanen tercapai untuk mengembalikan arus pengiriman barang ke level normal. Sementara itu, dunia tetap butuh energi, dan alternatifnya semakin jelas.
Narasi tentang transisi energi sepertinya menemukan momentum barunya, didorong oleh konflik geopolitik yang justru mempersulit akses ke sumber energi konvensional. China, dengan dominasinya di rantai pasokan teknologi hijau, tampaknya siap memanfaatkan peluang ini.
Artikel Terkait
Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi 144,9 Miliar Dolar AS per Akhir Mei 2026
BMKG Catat Tsunami Terjang Sembilan Wilayah Usai Gempa M 7,7 di Filipina, Tertinggi 0,75 Meter
Pantai Apparalang Dikelola Tanpa Izin, Kadispar Bulukumba Sebut Retribusi Masuk Kategori Pungli
Pertagas Tangani Kebocoran Pipa Gas di Babelan Kurang dari Dua Jam