Sabtu lalu, tepatnya tanggal 18 April 2026, sebanyak 322 petugas haji resmi diberangkatkan ke Arab Saudi. Mereka ini adalah para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH. Keberangkatan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan penanda penting: gelombang pertama pengiriman petugas sudah rampung. Tugas mereka jelas, memperkuat layanan untuk jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.
Keseluruhan petugas yang berangkat kali ini masuk dalam Daerah Kerja Madinah. Jadi, begitu mendarat, mereka akan langsung terjun. Fokusnya adalah mendukung operasional layanan, terutama menyambut jamaah yang baru tiba di kota Nabi tersebut.
Namun begitu, tantangan sesungguhnya belum dimulai. Menurut Direktur Bina Petugas Haji Reguler, Chandra Sulistio Reksoprodjo, puncak pekerjaan justru akan datang nanti.
“Siapkan fisik dengan baik. Kegiatan di lapangan membutuhkan stamina yang kuat, terutama saat fase Armuzna,” tegas Chandra.
Ia merujuk pada fase paling padat dan melelahkan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di situlah kerja keras mereka benar-benar diuji.
Pandangan senada disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid. Baginya, kunci sukses penyelenggaraan haji ada di tangan para petugas di lapangan.
“Baik buruknya pelaksanaan haji ini tergantung bagaimana kita mengendalikan. Kalau berhasil, maka pengendaliannya berhasil,” kata Harun.
Ia punya pesan khusus: petugas harus aktif mengawasi dan cepat tanggap. Setiap persoalan yang dialami jamaah harus segera diantisipasi, jangan sampai berlarut-larut.
Sebelum terbang, mereka tentu sudah dibekali. Pembekalan intensif digelar di Asrama Haji Jakarta mulai Jumat sebelumnya. Materinya menyeluruh, mulai dari kesiapan teknis hingga skema penugasan yang detail, termasuk strategi menghadapi Armuzna.
Laksma Harun Arrasyid, yang menjabat Kasatop Armuzna dan Linjam, membeberkan sedikit strategi penempatan. Petugas akan disebar di titik-titik strategis. Misalnya di Mina dan sepanjang jalur menuju Jamarat.
“Penempatan dilakukan di pos-pos ad hoc serta jalur pergerakan jemaah untuk memastikan mobilitas berjalan lancar,” ujarnya.
Tak cuma itu. Penempatan juga akan bersifat dinamis. Jika ada titik yang dinilai krusial dan padat, seperti di Arafah, petugas akan diperbantukan untuk mengurai kepadatan. Semua demi kelancaran.
Dengan berangkatnya gelombang pertama ini, harapannya besar. Seluruh petugas diharap sigap menghadapi segala dinamika di lapangan. Layanan optimal untuk jamaah adalah tujuan akhirnya. Semoga perjalanan ibadah tahun ini berjalan lancar.
Artikel Terkait
Ketegangan Hormuz Kembai Meningkat, Iran Tutup Selat Usai Ancaman Blokade AS
Uber Siapkan Rp170 Triliun untuk Percepatan Layanan Taksi Otonom
PSIM Yogyakarta Terpaksa Main di Bali Tanpa Penonton Lawan Persija
PM Anwar Konfirmasi Negosiasi Petronas dengan Rusia untuk Jamin Pasokan Minyak