Pouyanne melihat situasi ini dengan pesimis. "Ini akan menambah lapisan likuiditas yang lebih rendah di pasar," katanya, merujuk pada dampak yang akan segera terasa.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa negara-negara Barat saat ini masih punya tameng. Cadangan minyak dan gas mereka telah melindungi mereka dari guncangan ekonomi terburuk setidaknya untuk sementara. Namun begitu, peringatannya serius: jika perang dan blokade ini berlarut-larut lebih dari tiga bulan, keadaan bisa berbalik.
Masalah pasokan yang serius akan mulai menghantui, khususnya untuk bahan bakar jet dan diesel. Ancaman itu nyata, dan waktu terus berjalan.
Artikel Terkait
Arab Saudi Perketat Akses ke Makkah, Hanya Pemegang Izin Haji yang Diizinkan Masuk
Rupiah Melemah ke Rp17.143, Dihantui Blokade AS di Iran dan Revisi Proyeksi IMF
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi USD437,9 Miliar di Februari 2026, Didorong Sektor Publik
Presiden Prabowo Kembali ke Tanah Air Usai Lawatan Bilateral ke Rusia dan Prancis