Rupiah menutup perdagangan Rabu (15/4/2026) dengan catatan merah. Melemah 16 poin, kursnya berada di level Rp17.143 per dolar AS. Itu artinya, mata uang kita terkikis 0,09 persen di hari itu.
Lalu, apa yang terjadi? Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, melihat ada sejumlah sentimen yang mendorong pelemahan ini. Dari luar negeri, situasinya cukup panas.
Komando Pusat AS baru-baru ini mengumumkan lewat sebuah postingan media sosial bahwa blokade pelabuhan Iran sudah sepenuhnya diberlakukan. Imbasnya, semua lalu lintas perdagangan ekonomi Iran lewat laut, baik keluar maupun masuk, dihentikan total oleh pasukan AS.
Menurut Ibrahim dalam risetnya, langkah ini berpotensi memicu gangguan yang lebih parah di Selat Hormuz, apalagi jika Iran memutuskan untuk membalas dengan kekuatan militer.
"Hormuz adalah titik fokus utama dalam perang Iran, dengan Teheran secara efektif memblokir saluran tersebut sebagai tanggapan terhadap permusuhan AS-Israel pada akhir Februari," tulisnya.
Ini masalah besar, mengingat sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati selat sempit itu. Banyak negara di kawasan Asia-Pasifik, termasuk kita, sangat bergantung pada jalur ini.
Namun begitu, ada secercah harapan. Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran sejauh ini masih bertahan. Sejak akhir pekan lalu, belum ada laporan serangan baru yang berarti.
Di sisi lain, sentimen dari dalam negeri juga tak kalah kompleks. Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026. Angkanya dipangkas menjadi 5 persen, sedikit lebih rendah dari proyeksi Januari lalu yang optimis di 5,1 persen. Untuk 2027, IMF memproyeksikan pertumbuhan akan kembali ke 5,1 persen.
Bukan cuma Indonesia yang dikoreksi. IMF juga memprediksi perlambatan ekonomi global tahun depan, hanya tumbuh 3,1 persen. Perlambatan ini tak lepas dari pecahnya perang di Timur Tengah tahun ini, yang memperberat beban ekonomi dunia yang sudah sempat terhambat oleh persoalan perdagangan tahun lalu.
IMF bukan satu-satunya lembaga yang bersikap lebih hati-hati. Sebelumnya, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk 2026 menjadi 4,7 persen. Angka ini turun dari proyeksi Oktober 2025 yang menyebutkan 4,8 persen.
Meski begitu, ada pandangan yang sedikit berbeda dari Asian Development Bank (ADB). Lembaga ini justru memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil di angka 5,2 persen untuk tahun 2026 dan 2027. Kunci utamanya? Permintaan domestik yang kuat dan belanja infrastruktur pemerintah yang terus berjalan, yang menjadi penopang stabilitas di kawasan Asia Tenggara.
Dengan campuran sentimen global yang mencemaskan dan proyeksi pertumbuhan yang beragam ini, pergerakan rupiah ke depan diprediksi masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan besok, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah, bergerak dalam rentang yang cukup luas antara Rp17.140 hingga Rp17.180 per dolar AS.
Artikel Terkait
Riset: Kenaikan Cukai Rokok Selama 10 Tahun Belum Kurangi Keterjangkauan
JK Buka Peluang Jalur Hukum Atas Tudingan Penistaan Agama
Personel UNIFIL Tewas dalam Serangan di Lebanon Selatan, Prancis Tuntut Pertanggungjawaban
Bappenas Soroti Ketergantungan Daerah pada Dana Pusat Capai 83 Persen