Dokter Bantah Mitos Parfum di Leher Picu Kanker, Peringatkan Risiko Iritasi Kulit

- Rabu, 03 Juni 2026 | 09:00 WIB
Dokter Bantah Mitos Parfum di Leher Picu Kanker, Peringatkan Risiko Iritasi Kulit

Kebiasaan menyemprotkan parfum langsung ke leher atau kulit sering dilakukan demi mendapatkan aroma yang lebih tahan lama. Namun, di balik kebiasaan itu, sebagian orang justru mengalami keluhan berupa rasa gatal, kemerahan, hingga iritasi pada kulit.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, menjelaskan bahwa risiko yang lebih mungkin terjadi akibat penggunaan parfum secara langsung pada kulit bukanlah kanker atau gangguan tiroid, melainkan dermatitis atau peradangan kulit. Penjelasan ini disampaikan menyusul ramainya informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa menyemprotkan parfum di area leher dapat memicu gangguan tiroid hingga kanker. Menurut dr. Adam, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim tersebut.

"Izin menjelaskan ya! Nah sebetulnya hingga saat ini BELUM ADA BUKTI KUAT bahwa menyemprot parfum di area leher itu bisa meningkatkan risiko penyakit tiroid atau kanker di area leher," tulis dr. Adam melalui akun media sosialnya.

Ia menjelaskan, beberapa produk parfum memang mengandung bahan kimia tertentu yang dikenal sebagai endocrine-disrupting chemicals (EDC), seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Meski demikian, keberadaan zat tersebut tidak serta-merta menjadikan parfum sebagai penyebab kanker atau gangguan tiroid.

"Nah tapi yang perlu diperhatikan adalah sifatnya itu zatnya terakumulasi di tubuh, dapat melalui jalur mana saja, TIDAK KHUSUS karena disemprotkan di leher," katanya.

Menurut dr. Adam, masalah yang lebih sering muncul justru reaksi pada kulit akibat paparan langsung bahan-bahan dalam parfum. Kondisi ini dapat memicu dermatitis dengan gejala berupa gatal, kemerahan, sensasi terbakar, kulit kering, hingga iritasi pada area yang terkena semprotan.

Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk memperhatikan reaksi kulit setelah menggunakan parfum. Jika muncul tanda-tanda iritasi, penggunaan parfum pada area kulit sensitif sebaiknya dihentikan dan diganti dengan cara penyemprotan pada pakaian atau area lain yang tidak menimbulkan reaksi.

"Bukti ilmiah menyemprotkan parfum langsung di leher terhadap terjadinya penyakit tiroid dan kanker masih belum kuat. Risiko yang dapat muncul akibat menyemprotkan parfum di leher adalah dermatitis," tegas dr. Adam.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar