"Setiap kapal Iran yang mendekat akan segera dieliminasi," tegasnya.
Pejabat militer AS mengonfirmasi, blokade ini berlaku untuk semua bendera. Langkah ini diambil tak lama setelah pembicaraan damai di Pakistan mentok tanpa titik terang.
Gencatan Senjata Terancam, Pasar Energi Cemas
Yang jadi masalah, blokade ini diberlakukan padahal AS dan Iran sebenarnya baru saja sepakat gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan yang rencananya berlaku hingga 22 April itu sekarang terancam bubar. Ketegangan bisa meledak lagi kapan saja.
Respon Iran dengan mengancam keamanan semua pelabuhan di kawasan hanya memperbesar kemungkinan konflik regional yang lebih luas. Dan semua mata tertuju ke Selat Hormuz.
Ini adalah urat nadi energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati perairan sempit ini. Gangguan sejak perang pecah akhir Februari lalu sudah memicu lonjakan harga energi. Memang, pada perdagangan Selasa, harga minyak sempat mereda di bawah 100 dolar per barel. Ada secercah harapan bahwa dialog baru mungkin masih terbuka.
Tapi para analis memperingatkan, situasinya tetap rapuh. Sangat rapuh. Satu insiden militer atau gangguan pelayaran di Selat Hormuz saja sudah cukup untuk kembali mengguncang pasar energi dan membebani ekonomi global yang sudah lesu. Dampaknya akan terasa di mana-mana.
Editor: Arti Ekawati
Artikel Terkait
Gadis 14 Tahun Lolos SNBP ke Farmasi Unair Tanpa Jalur Akselerasi
Borneo FC Siap Hadapi Tujuh Laga Final untuk Kejar Persib di Puncak Klasemen
Gubernur DKI Pasang CCTV di Seluruh JPO untuk Tangkal Pencurian Besi
Gubernur DKI Pramono Anung Dukung Tindakan Tegas Atas Aksi Premanisme di Jakarta