Di Washington, sebuah pertemuan langka akhirnya terjadi. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memfasilitasi perundingan langsung antara perwakilan Israel dan Lebanon yang pertama kalinya dalam puluhan tahun. Kedua delegasi menyebutnya positif, meski belum ada kejelasan apakah mereka sudah menemukan pijakan menuju perdamaian.
Agenda mereka, nyatanya, berbeda jauh. Israel bersikukuh tidak akan membahas gencatan senjata di Lebanon. Sebaliknya, mereka menuntut Beirut untuk melucuti kekuatan Hezbollah. Pertemuan yang digelar Selasa lalu itu, menurut sejumlah saksi, berlangsung tegang namun tetap terjaga.
Pasca pertemuan, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pernyataan resmi. Disebutkan bahwa telah terjadi "diskusi produktif mengenai langkah-langkah menuju dimulainya negosiasi langsung."
Namun begitu, pernyataan itu sama sekali tak menyebut adanya titik temu. Hanya ada komitmen samar: "Semua pihak sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama."
Usai duduk lebih dari dua jam, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, berbicara pada awak media.
Ia mengklaim pemerintah Lebanon telah memberi penegasan bahwa mereka tak mau lagi "diduduki" oleh milisi Hezbollah, sekutu Iran itu. Tapi ketika ditanya apakah Israel akan menghentikan serangannya, Leiter memilih tak menjawab.
Dari kubu Lebanon, Duta Besar Nada Moawad punya nada berbeda. Ia menyebut pertemuan awal ini "konstruktif."
Moawad menegaskan, pihaknya telah menyerukan gencatan senjata segera, pengembalian pengungsi, dan langkah-langkah meredam krisis kemanusiaan yang melanda Lebanon akibat konflik.
Momen pertemuan ini memang krusial. Baru sepekan sebelumnya, gencatan senjata rapuh antara AS, Israel, dan Iran baru saja ditandatangani. Situasinya masih sangat labil.
Konflik yang lebih luas sebenarnya sudah memanas sejak akhir Februari, diawali serangan AS-Israel ke Iran. Hezbollah lalu membalas di awal Maret, yang memicu ofensif besar-besaran Israel. Korban jiwa di Lebanon dikabarkan sudah lebih dari 2.000 orang, dengan 1,2 juta lainnya terpaksa mengungsi. Angka yang sungguh memilukan.
Kehadiran Rubio yang juga menjabat penasihat keamanan nasional Presiden Trump jelas bukan tanpa maksud. Washington punya kepentingan besar melihat kemajuan di sini.
Trump sendiri dikabarkan mendesak Israel agar mengurangi serangan di Lebanon. Tujuannya, agar gencatan senjata dengan Iran tidak buyar. Perang ini telah memicu gangguan pasokan minyak terparah dalam sejarah, dan tekanan untuk segera mencari jalan keluar semakin besar.
Tapi jalan itu berliku. Iran bersikukuh bahwa kampanye Israel melawan Hezbollah di Lebanon harus jadi bagian dari setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang. Posisi ini tentu mempersulit pembicaraan yang selama ini dimediasi Pakistan. AS menolak mentah-mentah, dengan alasan kedua jalur perundingan itu tak terkait.
Di awal pertemuan, Rubio sendiri tampaknya tak berharap terlalu muluk. Ia mengakui bahwa pembicaraan hari itu tak akan menyelesaikan "seluruh kompleksitas" yang ada.
Tapi setidaknya, ia berharap ini bisa menjadi awal untuk membentuk sebuah kerangka. Sebuah fondasi yang lama hilang, untuk sesuatu yang disebut perdamaian.
Artikel Terkait
WNA Vietnam Dideportasi Imigrasi Usai Praktik Ilegal sebagai Dokter Gigi di Ciputat
Rusia Tembak Jatuh Ratusan Drone Ukraina di Dekat Forum Ekonomi Saint Petersburg
Pria di Bogor Luka Dihajar Begal saat Nekad Sembunyikan Kunci Motor
Kendal Tornado FC Perpanjang Kontrak Pelatih Stefan Keeltjes, Target Promosi ke Liga 1 Musim Depan