Israel dan Lebanon Sepakat Mulai Negosiasi Langsung, Mediasi AS

- Rabu, 15 April 2026 | 04:55 WIB
Israel dan Lebanon Sepakat Mulai Negosiasi Langsung, Mediasi AS

Setelah pembicaraan di Washington, ada kesepakatan. Israel dan Lebanon bakal duduk untuk negosiasi langsung. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang jadi mediator, tak ragu menyebut momen ini sebagai "peluang bersejarah" menuju perdamaian.

Pertemuan hari Selasa itu memang istimewa. Ini adalah dialog tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak 1993. Dilansir AFP, Rabu (15/4/2026), pertemuan itu dihadiri oleh duta besar masing-masing negara untuk AS, dimediasi langsung oleh Rubio.

"Ini adalah peluang bersejarah," kata Rubio saat menyambut para diplomat.

Ia mengakui, ada "puluhan tahun sejarah" yang memberatkan proses ini. Tapi harapannya jelas. "Harapannya hari ini adalah kita dapat menyusun kerangka kerja yang dapat menjadi dasar bagi perdamaian yang berkelanjutan," ujarnya.

Suasana di ruang itu digambarkan positif. Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan diskusi berlangsung "produktif". Semua pihak, katanya, sepakat untuk memulai negosiasi langsung. Waktu dan tempatnya nanti akan disepakati bersama.

Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, terlihat optimis. Ia menyebut pertukaran pandangan yang terjadi "luar biasa".

"Kami menemukan hari ini bahwa kami berada di sisi yang sama," katanya kepada para wartawan.

Menurutnya, Israel dan Lebanon bersatu dalam satu tujuan: membebaskan Lebanon dari cengkeraman Hezbollah.

Di sisi lain, pernyataan dari Duta Besar Lebanon, Nada Hamadeh Moawad, terdengar lebih berhati-hati. Ia menyebut pertemuan itu "konstruktif", tak lebih. Namun begitu, ia langsung menekankan poin-poin krusial: seruan untuk gencatan senjata dan penegasan kedaulatan penuh Lebanon atas seluruh wilayahnya.

Latar belakangnya memang rumit. Secara teknis, kedua negara ini masih dalam keadaan perang selama beberapa dekade. Dan pembicaraan damai ini langsung mendapat penolakan keras. Hezbollah, kelompok militan Lebanon, merespons dengan meluncurkan roket ke lebih dari selusin kota di Israel utara. Serangan itu terjadi tepat saat pertemuan di Washington dimulai, seperti sebuah peringatan.

Kepentingan AS dalam hal ini jelas. Washington mendorong penghentian konflik Israel-Hezbollah karena khawatir gelombang pertempuran bisa merusak gencatan senjata yang sudah diupayakan dengan Iran. Apalagi pembicaraan dengan Teheran di Pakistan sebelumnya mentok, tanpa terobosan berarti.

Peran Hezbollah dalam konflik ini sentral. Lebanon sendiri seolah terseret ke dalam konflik yang lebih luas setelah Hezbollah menyerang Israel untuk mendukung Iran. Serangan itu memicu balasan dahsyat: invasi darat dan serangan Israel yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengusir lebih dari satu juta penduduk dari rumah mereka.

Saat ini, pasukan Israel masih menduduki sebagian wilayah selatan Lebanon. Pemerintah Israel bersikukuh: tak akan ada gencatan senjata sebelum Hezbollah dilucuti.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mencoba merangkum posisi negaranya. Israel menginginkan "perdamaian dan normalisasi" dengan Lebanon, katanya. Tapi ada satu masalah besar yang harus diselesaikan lebih dulu: Hezbollah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar