"Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai yang Maha Pengasih (Ar Rahman) yaitu Subhanallah wabihamdihi dan Subhaanallahulazhiim." (HR. Bukhari).
Kalimat "Subhanallah" sendiri punya makna yang dalam. Ia adalah bentuk pensucian. Bahkan, para malaikat mengucapkannya, seperti tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 32. Mereka berkata, "Maha Suci Engkau (Allah), tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Intinya, kata para malaikat itu, mereka tak tahu apa-apa kecuali ilmu yang Allah berikan. Sebuah pengakuan ketundukan total.
Ibnu Abbas menerangkan, "subhanallah" adalah pujian Allah untuk diri-Nya sendiri, yang menyucikan-Nya dari segala sifat kurang.
Kisahnya, Umar bin Khattab pernah bertanya pada Ali bin Abi Thalib. "Kalau makna 'la ilaha illallah' sudah kami paham, lalu apa makna 'subhanallah'?"
Ali pun menjawab dengan lugas. "Itu adalah kalimat yang Allah sukai untuk diri-Nya. Dia rela dan senang bila kalimat itu diucapkan."
Jadi, itulah dzikir yang dianjurkan. Singkat, mudah dihapal, tapi dampaknya luar biasa. Coba bayangkan, sesuatu yang disukai oleh Allah sendiri. Ada baiknya kita mulai mengamalkannya, kapan saja dan di mana saja.
Wallahu A'lam.
Artikel Terkait
Trump Ancam Kuba, Presiden Diaz-Canel Siapkan Perlawanan
Ekonomi Singapura Melambat di Kuartal I 2026, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman
Putin dan Prabowo Pererat Kerja Sama Strategis Rusia-Indonesia di Kremlin
Kebakaran Rumah Kos di Kemayoran Tewaskan Satu Orang