JAKARTA - Dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, ada amalan sederhana yang sering terlupa. Dzikir. Iya, mengingat Allah. Bukan cuma ritual formal, tapi sebentuk keakraban dengan Sang Pencipta di segala suasana, susah maupun senang. Konon, bacaan dzikir tertentu itu ringan diucapkan lidah, tapi bobotnya luar biasa saat ditimbang nanti. Bahkan, Allah sendiri yang menyukainya.
Secara bahasa, dzikir itu artinya menyebut atau mengingat. Nah, dalam konteks agama, ia adalah upaya mendekatkan diri pada Allah SWT dengan menyebut nama-Nya. Bisa dilakukan sendiri, bisa juga berjamaah. Yang penting, ada penghayatan mendalam di dalam hati. Bukan sekadar gerak bibir.
Allah sudah berjanji dalam firman-Nya di Surah Al-Baqarah ayat 152: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Menurut Ibnu Abbas, tafsir ayat ini cukup dalam. Ingat Allah kepada kita, katanya, jauh lebih besar dan banyak dibanding ingat kita kepada-Nya. Bayangkan.
Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan sabda dari Allah lewat hadis qudsi. Bunyinya kira-kira begini: "Barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam dirinya, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam diri-Ku; dan barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam suatu golongan, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam golongan yang lebih baik daripada golongannya."
Lalu, dzikir apa sih yang dimaksud? Yang ringan di lisan tapi berat di timbangan amal?
Jawabannya adalah kalimat: Subhanallah Wabihamdihi Subhanallahil 'Adhim.
Artinya, "Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung."
Dua kalimat mulia ini bersumber dari hadis riwayat Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda:
Artikel Terkait
Trump Ancam Kuba, Presiden Diaz-Canel Siapkan Perlawanan
Ekonomi Singapura Melambat di Kuartal I 2026, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman
Putin dan Prabowo Pererat Kerja Sama Strategis Rusia-Indonesia di Kremlin
Kebakaran Rumah Kos di Kemayoran Tewaskan Satu Orang