Setelah berhasil menyepakati tarif listrik dengan PT PLN, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) kini bersiap melangkah lebih jauh. Proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW itu akan memasuki fase pengembangan berikutnya. Targetnya, pembangkit ini bisa beroperasi secara komersial pada 2028.
Kesepakatan harga listrik itu sendiri baru saja ditandatangani akhir Desember lalu di Bandung, melibatkan konsorsium PGE dan PLN Indonesia Power. Bagi mereka, momen ini sangat krusial. Pasalnya, ini adalah pintu gerbang sebelum proyek yang menggunakan skema Independent Power Producer (IPP) benar-benar digarap.
Lalu, apa saja tahapannya? Rencananya, akan dibentuk joint venture terlebih dahulu. Setelah itu, baru proses EPCC mulai dari rekayasa teknik, pengadaan, konstruksi, sampai uji coba dijalankan. Semua itu harus tuntas sebelum Power Purchase Agreement (PPA) disusun dan ditandatangani.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menyebut pencapaian ini sebagai bagian dari komitmen perusahaan mendorong transisi energi bersih di Indonesia.
"Kami menyambut baik perkembangan proyek ini yang terus berjalan sesuai rencana," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (14/4/2026).
Menurut Yani, pemanfaatan teknologi bottoming punya nilai lebih. Teknologi ini bisa menangkap panas sisa dari operasi pembangkit eksisting yang selama ini mungkin terbuang.
"Melalui teknologi ini, panas sisa yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik," jelasnya.
Dia menambahkan, cara kerja ini bukan cuma meningkatkan efisiensi, tapi juga memperkuat porsi energi bersih dalam bauran nasional. "Ke depan, kami siap melanjutkan proyek ini ke tahapan berikutnya agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat," tegas Yani.
Sebagai perusahaan dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di sektor panas bumi, PGE memang terus mencari celah inovasi. Proyek Lahendong ini adalah salah satu bentuknya. Saat ini, kapasitas terpasang dari operasi mereka sendiri mencapai 727 MW yang tersebar di enam wilayah kerja. Dan masih ada sejumlah proyek pengembangan lain yang sedang dipersiapkan untuk menambah angka itu dalam beberapa tahun mendatang.
Artikel Terkait
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen
IHSG Terkoreksi 0,56% dalam Sepekan, Aksi Jual Asing dan Rebalancing MSCI Tekan Saham Bank Besar