Pertumbuhan ekonomi Singapura menunjukkan perlambatan di awal tahun 2026. Data awal yang dirilis pemerintah menunjukkan, Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu tumbuh 4,6% pada kuartal pertama jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka ini, meski terlihat kuat, sebenarnya turun dari capaian kuartal sebelumnya yang mencapai 5,7%.
Menurut Kementerian Perdagangan dan Industri, angka 4,6% ini masih bersifat estimasi awal. Mereka mengaku, perhitungannya lebih banyak mengandalkan data dari Januari dan Februari. Nah, di sinilah masalahnya. Gejolak di Timur Tengah, yang memanas pada Maret, mulai terasa bebannya terhadap aktivitas perekonomian.
Jadi, meski performa kuartal I masih bisa dibilang tangguh, ada kekhawatiran nyata untuk bulan-bulan ke depan. Konflik yang berkepanjangan itu berpotensi meredam laju ekonomi Singapura. Apalagi, jika dilihat dari kacamata kuartalan, gambarnya kurang menggembirakan. Ekonomi justru menyusut 0,3% dibanding kuartal akhir 2025, padahal sebelumnya sempat mengembang 1,3%.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Perdagangan dan Industri, Gan Kim Yong, sudah mengingatkan hal serupa pekan lalu. Menurutnya, perang di Iran kemungkinan besar akan bikin ekonomi melambat dan harga-harga terdorong naik.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Yakinkan Investor Global di New York Soal Konsistensi Kebijakan Fiskal Indonesia
KPK Sita 1 Juta Dolar AS Terkait Dugaan Upaya Pengondisian Pansus Haji DPR
Evaluasi Awal WFH ASN Positif, Kinerja dan Pelayanan Publik Tetap Terjaga
Trump Ancam Kuba, Presiden Diaz-Canel Siapkan Perlawanan