Fokusnya ada pada penguatan struktur pendanaan yang lebih efisien. Caranya? Antara lain dengan meningkatkan porsi dana murah dan mengendalikan biaya bunga secara disiplin. Di sisi lain, dari segi aset, bank ini mengedepankan penyaluran kredit yang benar-benar selektif dan berkualitas. Tujuannya sederhana: imbal hasil bisa optimal, tapi risikonya tetap terkendali. Strategi ini jadi fondasi penting untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan bisnis dan profitabilitas.
Data per Januari 2026 menunjukkan, BWS yang merupakan anak usaha Woori Bank Korea telah menyalurkan kredit senilai Rp42,38 triliun. Sementara liabilitasnya tercatat Rp47 triliun, dengan dana pihak ketiga (DPK) mendominasi di angka Rp35,47 triliun. Sebagian likuiditasnya juga ditempatkan di instrumen keuangan seperti surat berharga dan penempatan di Bank Indonesia.
Menurut Rafly, langkah-langkah BWS ini sejalan dengan praktik terbaik di industri.
Meski begitu, Rafly punya catatan. Di saat yang sama, BWS perlu terus memperkuat fungsi intermediasinya.
Jadi, intinya, di tengah dinamika yang serba tidak pasti ini, ketelitian dan strategi pengelolaan yang prudent menjadi kunci. Bukan cuma untuk bertahan, tapi juga untuk tumbuh dengan sehat.
Artikel Terkait
OJK Ubah Aturan SLIK, Hanya Catat Pinjaman di Atas Rp1 Juta untuk Akselerasi KPR Subsidi
BYD Kuasai Lebih dari 60% Pasar Mobil Listrik Indonesia di Awal 2026
Dua Ormas Pemuda Laporkan Jusuf Kalla ke Polda Metro Terkait Ceramah Kontroversial
Investasi Kuartal I 2026 Tembus Rp497 Triliun, Tumbuh 7 Persen