JAKARTA - Pemerintah kini mengincar satu praktik curang di dunia perdagangan: manipulasi faktur atau yang dikenal sebagai trade misinvoicing. Intinya, ini adalah permainan angka di dokumen ekspor-impor. Tujuannya macam-macam, dari sekadar ngemplang pajak sampai menyamarkan uang haram.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka angkat bicara soal ini. Menurutnya, praktik licik ini ibarat kebocoran halus yang mengalirkan kekayaan Indonesia ke luar negeri.
"Di balik arus besar perdagangan global, ada gelombang lain yang tidak selalu terlihat di permukaan, namun bisa menggerus keadilan dan kejujuran ekonomi serta menyebabkan larinya modal dan kekayaan bangsa ke luar negeri. Ya, itu adalah praktik trade misinvoicing,"
kata Gibran dalam sebuah video bertajuk 'Menjaga Kedaulatan Keuangan: Langkah Tegas Berantas Trade Misinvoicing', Sabtu (11/4/2026).
Dia membeberkan, selisih pencatatan yang timbul dari praktik ini justru membuka pintu bagi peredaran dana gelap. Soalnya, transaksi yang mengalir keluar seringkali tak tercatat dengan benar.
"Ketika modal mengalir keluar tanpa tercatat secara jelas. Ketika harga transaksi dilaporkan tidak sesuai dengan sebenarnya, sehingga ada selisih pencatatan yang membuka celah dana gelap beredar. Inilah kecurangan yang seolah teknis tapi mengakibatkan dampak yang sangat nyata,"
tegasnya.
Artikel Terkait
NASA Gandeng Swasta Genjot Misi Pendaratan Berawak di Bulan 2028
Gubernur DKI Dukung Penangkapan Ikan Sapu-sapu untuk Lindungi Ekosistem Perairan
AS dan Iran Gelar Pembicaraan Tingkat Tinggi di Islamabad untuk Akhiri Perang Enam Minggu
Dubes Iran Akui Kondisi Selat Hormuz Mirip Masa Perang, Kapal Pertamina Masih Tertahan