Reaksi dari Iran tentu saja positif. Duta Besar Amir Saeid Iravani memuji langkah Beijing dan Moskow.
"Tindakan mereka hari ini mencegah Dewan Keamanan disalahgunakan untuk melegitimasi agresi," kata Iravani.
Ia juga menyinggung soal kunjungan diplomatik. Utusan pribadi Sekjen PBB, Jean Arnault, dikabarkan sedang dalam perjalanan ke Teheran untuk konsultasi. Rencananya, ia ingin mendorong penghentian perang, meski jadwal pastinya masih tergantung kondisi keamanan di lapangan.
Yang menarik, veto ini diberikan meski Bahrain sudah berusaha melunakkan drafnya. Setelah China menentang pemberian wewenang penggunaan kekuatan, klausul itu dicabut. Referensi soal penegakan yang mengikat juga dihilangkan.
Jadi, teks yang akhirnya dipungut suara hanya mendorong negara-negara untuk berkoordinasi melakukan upaya defensif. Misalnya, dengan pengawalan kapal dagang, untuk menjaga keamanan navigasi di selat yang vital itu. Tapi, bagi China dan Rusia, itu masih belum cukup netral. Mereka tetap menolak.
Suasana di Dewan Keamanan kembali memanas. Dan sekali lagi, jalan diplomasi terasa seperti jalan panjang yang berliku.
Artikel Terkait
JK Desak Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli untuk Hentikan Perpecahan
Sekjen PBB Sambut Gencatan Senjata Dua Minggu AS-Iran
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Australia Perebutkan Puncak Klasemen Grup B Piala AFF 2026
Kemnaker Beri Insentif bagi Perusahaan yang Fasilitasi Sertifikasi Peserta Magang