Industri Pulp dan Kertas Tembus Ekspor USD 8,17 Miliar, Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja

- Rabu, 08 April 2026 | 14:45 WIB
Industri Pulp dan Kertas Tembus Ekspor USD 8,17 Miliar, Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja

Industri pulp dan kertas kita ternyata masih jadi andalan. Di tengah berbagai tantangan, sektor ini terus bekerja keras, menopang perekonomian nasional dengan kontribusi yang tak bisa dianggap remeh. Tak cuma memenuhi kebutuhan dalam negeri, ekspornya juga menggembirakan.

Angkanya cukup berbicara. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian untuk tahun 2025, industri kertas, barang kertas, dan percetakan menyumbang 3,73 persen terhadap PDB pengolahan nonmigas. Yang lebih menggigit, nilai ekspornya tembus USD 8,17 miliar! Rinciannya, ekspor pulp menyumbang USD 3,60 miliar, sementara kertas mencatatkan angka USD 4,57 miliar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita tak menyembunyikan apresiasinya.

“Dengan kontribusi yang diberikan oleh sektor industri ini kepada PDB pengolahan nonmigas telah menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu penopang utama manufaktur nasional. Selain itu, penyerapan lebih dari 1,4 juta tenaga kerja juga mencerminkan dampak luas sektor industri pulp dan kertas terhadap perekonomian nasional,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Ya, soal penyerapan tenaga kerja, sektor ini memang jago. Lebih dari 280 ribu orang dipekerjakan langsung, dan jika ditotal dengan pekerja tidak langsung, angkanya mencapai sekitar 1,2 juta jiwa. Saat ini ada 113 perusahaan yang bergerak di bidang ini. Posisi Indonesia di peta global pun cukup mentereng: peringkat ke-7 untuk produsen pulp dunia, dan ke-6 untuk kertas.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menambahkan bahwa industri ini punya daya ungkit besar. Ia menyebutnya sebagai sektor hilir yang menghasilkan beragam produk bernilai tambah.

“Industri ini menghasilkan berbagai produk berkualitas seperti pulp, kertas industri, tisu, kertas khusus hingga rayon atau viscose yang dimanfaatkan luas oleh berbagai sektor industri,” kata Putu.

Mulai dari kemasan makanan, baju, sampai barang elektronik, semuanya butuh produk turunan dari industri ini. Itulah yang mendongkrak permintaan.

Ke depannya, peluangnya masih terbuka lebar. Tren global sedang mengarah pada kemasan berbasis kertas dan flexible packaging yang dianggap lebih efisien dan berkelanjutan. Pasar paperboard menguasai hampir 32% pasar kemasan global. Sementara pasar flexible packaging sendiri nilainya fantastis, lebih dari USD 270 miliar, dan diprediksi bakal terus tumbuh.

Tapi, jalan yang dilalui tidak selalu mulus. Ada beberapa tantangan yang mengganjal. Misalnya, pasokan kertas daur ulang dalam negeri yang masih terbatas. Lalu ada soal kebijakan impor garam industri untuk bahan baku pabrik Chlor Alkali Plant (CAP). Juga, penerapan kewajiban sertifikasi halal yang akan berlaku tahun 2026.

Belum lagi tekanan dari luar. Regulasi Uni Eropa soal deforestasi (EUDR), hambatan non-tarif, dan tarif resiprokal dari Amerika Serikat ikut mempersulit posisi.

“Terlepas dari tantangan tersebut, industri pulp dan kertas nasional tetap menunjukkan perkembangan yang positif dengan tetap mengedepankan prinsip industri hijau dan ekonomi sirkular,” tutur Putu.

Untuk mengatasi ini, Kemenperin punya sejumlah strategi. Mulai dari konsolidasi kebijakan bahan baku, perbaikan rantai pasok daur ulang, sampai mendorong inovasi bahan baku alternatif. Pisang, sereh wangi, tandan kosong kelapa sawit, dan kenaf sedang dikaji penggunaannya. Pemberian insentif fiskal dan nonfiskal juga terus digodok.

Upaya standarisasi juga diperkuat. Pemerintah telah menerbitkan Permenperin No. 6 Tahun 2025 yang mewajibkan SNI untuk kertas dan karton kemasan pangan sejak Juli 2025 lalu. Tujuannya jelas: meningkatkan keamanan dan mutu.

Harapannya, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri bisa makin erat. Dengan begitu, industri pulp dan kertas nasional bukan cuma tangguh, tapi juga inovatif dan ramah lingkungan, siap menjawab tantangan pasar global.

“Kami mengharapkan agar APKI dapat terus menjadi mitra pemerintah untuk mendukung pertumbuhan sektor industri nasional. Melalui sinergi yang semakin kuat, kita optimalkan potensi yang dimiliki untuk menciptakan produk kertas yang sesuai permintaan pasar, ramah lingkungan, serta memiliki ragam yang semakin bervariasi,” pungkas Putu.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar