“Kami mengapresiasi perusahaan yang memfasilitasi sertifikasi. Ini penting agar peserta memiliki bukti kompetensi yang diakui dunia industri,” kata Darmawansyah.
Ia menambahkan, keuntungannya tidak satu arah. Perusahaan pendukung sertifikasi itu sendiri akan mendapat akses lebih luas ke program-program strategis pemerintah. Harapannya, tercipta sinergi yang saling menguntungkan bagi semua pihak: pemerintah, pelaku usaha, dan tentu saja para peserta magang.
Secara angka, program nasional ini sedang diikuti oleh sekitar 100.000 peserta. Mereka tersebar di berbagai perusahaan, kementerian, dan lembaga. Pelaksanaannya bertahap. Untuk gelombang pertama saja, ada hampir 15.000 peserta yang dijadwalkan menyelesaikan magangnya pada pertengahan April 2026 nanti.
Lalu, apa yang didapat peserta usai magang? Bagi yang menyelesaikan program penuh selama enam bulan, akan ada sertifikat magang. Sementara peserta dengan durasi lebih pendek, antara tiga hingga enam bulan, tetap dapat pengakuan berupa surat keterangan pengalaman kerja. Lumayan untuk portofolio pertama.
Ke depannya, Kemnaker berencana memperluas akses sertifikasi ini. Caranya dengan mempererat kolaborasi bersama BNSP dan Lembaga Sertifikasi Profesi di berbagai sektor industri. Targetnya jelas: mendorong lahirnya tenaga kerja yang tidak cuma kompeten, tapi juga adaptif dan punya daya saing tinggi di pasar kerja yang semakin ketat ini.
Artikel Terkait
JK Desak Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli untuk Hentikan Perpecahan
Sekjen PBB Sambut Gencatan Senjata Dua Minggu AS-Iran
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Australia Perebutkan Puncak Klasemen Grup B Piala AFF 2026
China dan Rusia Veto Resolusi PBB Soal Keamanan Selat Hormuz, Sebut Bias terhadap Iran