Dewan Keamanan PBB baru saja diguncang veto. Dua kekuatan besar, China dan Rusia, dengan tegas menolak resolusi yang diajukan Bahrain soal pengamanan pelayaran di Selat Hormuz. Padahal, dari 15 anggota dewan, sebelas suara mendukung. Dua lainnya memilih abstain.
Jadi, apa masalahnya? Menurut kedua negara, rancangan resolusi itu dianggap berat sebelah. Mereka melihatnya bias terhadap Iran.
Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong, bersuara lantang. Ia menilai mengadopsi resolusi semacam ini di saat Amerika Serikat disebut mengancam "kelangsungan hidup sebuah peradaban" adalah langkah yang keliru.
"Resolusi ini bias terhadap Iran, sebab saat mengadopsi draft ini, Amerika Serikat tengah merencanakan penghancuran bagi rakyat sipil Iran," tegas Fu Cong.
Posisi Rusia tak jauh beda. Dubes Vasily Nebenzya menyatakan mereka justru mengajukan resolusi alternatif. Isinya lebih luas, mencakup situasi di Timur Tengah dan keamanan maritim. Intinya, mereka mendesak de-eskalasi dan kembali ke meja diplomasi, bukan langkah-langkah yang berpotensi memanas.
Dari Beijing, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China lebih keras lagi. Mereka menegaskan PBB harusnya meredakan ketegangan, bukan malah jadi alat perang.
Juru bicaranya, Mao Ning, dengan jelas menyampaikan, "Dewan Keamanan PBB tidak boleh digunakan untuk mendukung tindakan perang ilegal, apalagi memperparah situasi."
Artikel Terkait
Sekjen PBB Sambut Gencatan Senjata Dua Minggu AS-Iran
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Australia Perebutkan Puncak Klasemen Grup B Piala AFF 2026
Kemnaker Beri Insentif bagi Perusahaan yang Fasilitasi Sertifikasi Peserta Magang
Pemerintah Gelar Rapat Kerja Besar, Seluruh Jajaran Kabinet hingga Dirut BUMN Dihadirkan