Inggris Pimpin Konferensi 30 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz

- Rabu, 08 April 2026 | 12:45 WIB
Inggris Pimpin Konferensi 30 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz

MOSKOW Lebih dari tiga puluh perwakilan militer dari berbagai negara ikut serta dalam sebuah konferensi daring yang digelar Inggris, Selasa lalu. Inti pembahasannya? Upaya membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Kementerian Pertahanan Inggris Raya.

Lewat sebuah pernyataan resmi, kementerian itu menjelaskan, "Para perencana militer, sekutu, dan mitra dari lebih 30 negara bergabung dalam konferensi virtual ini. Tujuannya untuk mengoordinasikan langkah-langkah yang diperlukan." Mereka ingin memastikan akses ke selat itu kelak aman dan lancar.

Pertemuan tingkat tinggi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper sudah memimpin pertemuan para menteri luar negeri koalisi pada Kamis. Hasilnya, mereka sepakat mempertimbangkan berbagai cara untuk mendesak Iran membuka jalur air vital itu. Opsi sanksi pun disebut-sebut ada di atas meja.

Dukungan terhadap langkah Inggris ini ternyata cukup luas. Deklarasi yang mengusulkan bantuan untuk membuka blokade selat itu sudah ditandatangani oleh 38 negara. Awalnya, dokumen itu diusung oleh Inggris Raya, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan juga Jepang.

Latar belakang ketegangan ini tentu rumit. Semuanya berawal dari serangan AS dan Israel terhadap target di Iran, termasuk Teheran, pada akhir Februari lalu. Serangan itu menimbulkan kerusakan dan, sayangnya, korban jiwa di kalangan sipil.

Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik yang terjadi nyaris mematikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Padahal, selat ini adalah jalur utama pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Dampaknya langsung terasa: harga bahan bakar melonjak di banyak negara, menambah beban ekonomi yang sudah berat.

Sumber berita: Sputnik/RIA Novosti.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar