Berbeda dengan Samsung, SK Hynix tak memberikan laporan awal. Jadi, angka pendapatan yang beredar hanya murni berasal dari bisnis semikonduktor mereka. Perbandingan dengan tahun lalu pun terlihat sangat tajam. Laba SK Hynix diprediksi melonjak lebih dari empat kali lipat. Sedangkan profit Samsung? Bahkan lebih gila lagi, naik sekitar enam kali lipat.
Lalu, apa sih penyebabnya? Ternyata, kenaikan harga chip memori jadi faktor kunci. Kekurangan pasokan yang awalnya hanya di DRAM, kini sudah merambah ke flash NAND. Situasi ini jelas menguntungkan para produsen.
Di sisi lain, permintaan juga ikut mendorong. Penyedia layanan cloud di Amerika Utara diketahui gencar menambah belanja modal untuk ekspansi pusat data mereka. Chip berkinerja tinggi seperti HBM langsung diserap oleh pelanggan yang membangun pusat data AI. Ke depan, teknologi baru seperti robotika cerdas diperkirakan akan semakin menyulut permintaan.
Jadi, momentum ini tampaknya masih akan berlanjut. Para raksasa chip Korea itu sepertinya masih akan terus bersinar di tengah hiruk-pikuk revolusi AI.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan WFH untuk Swasta Hanya Imbauan, Bukan Kewajiban
Heineken Gelar Kampanye Fans Have More Friends, Tawarkan 7 Tiket ke Final Liga Champions
Danantara Jelaskan Alasan Mayoritas Operator PLTSa Berasal dari China
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia