Masalahnya klasik. Pajak bensin federal AS sudah mandek di angka 18,4 sen per galon sejak 1993 itu tiga dekade lalu! Kalau disesuaikan dengan inflasi, seharusnya angka itu sudah mendekati 42 sen. Tapi mana ada pemerintah yang berani menaikkannya? Risiko tidak populer itu nyata. Alhasil, dana untuk perbaikan jalan dan jembatan jadi seret.
Di sisi lain, masalah semakin rumit dengan maraknya kendaraan listrik. Mobil-mobil ini sama sekali tidak menyentuh bensin, artinya kontribusi mereka ke kas negara lewat pajak bahan bakar adalah nol besar. Belum lagi teknologi mesin konvensional yang semakin efisien, membuat pemasukan per galonnya terus menyusut.
Beberapa negara bagian sudah mencoba mencari solusi, misalnya dengan mengenakan biaya tambahan khusus untuk pemilik kendaraan listrik. Namun, Bozzella dan aliansinya menawarkan pendekatan yang lebih radikal. Mereka ingin sistem lama diganti total dengan tarif berbasis berat.
Namun begitu, ide ini bukan tanpa konsekuensi. Logikanya, pemilik kendaraan berat seperti truk, SUV, atau bahkan mobil listrik yang baterainya bobotnya fantastis bisa jadi akan terbebani lebih besar. Tapi soal besaran pastinya, itu wewenang Kongres untuk menentukan.
Wacana ini mengemuka tepat waktu, menjelang berakhirnya RUU transportasi darat pada 30 September mendatang. Kongres sendiri sedang sibuk membahas paket pendanaan baru senilai fantastis, antara 500 hingga 550 miliar dolar AS, untuk lima tahun ke depan.
Dalam ruang negosiasi, berbagai opsi bertebaran. Ada yang mengusulkan biaya tahunan sekitar 250 dolar, ada pula yang mengajukan tarif sekali bayar hingga 1.000 dolar, khusus untuk kendaraan listrik. Tapi dengan iklim politik yang masih belum stabil, masa depan usulan kebijakan ini benar-benar digantung di awang-awang. Bisa jadi solusi, bisa juga jadi bom waktu yang siap memecah belah.
Artikel Terkait
Long Weekend Paskah, 73 Ribu Kendaraan Padati Jalur Puncak Bogor
Manchester City Hancurkan Liverpool 4-0, Haaland Cetak Hattrick ke Semifinal Piala FA
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Tiga Lainnya Terluka
FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut