FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut

- Sabtu, 04 April 2026 | 20:00 WIB
FAO Catat Kenaikan Harga Pangan Global Kedua Kalinya Berturut-turut

Harga pangan dunia kembali merangkak naik. Laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan, indeks harga pangan global naik 2,4 persen pada Maret 2026 dibanding bulan sebelumnya. Ini sudah jadi kenaikan kedua berturut-turut. Dibanding setahun lalu, angkanya juga naik, meski lebih kecil, sekitar 1 persen.

Pemicunya? Tak jauh-jauh dari situasi geopolitik yang memanas. Konflik di Timur Tengah yang terus bereskalasi mendorong biaya energi melambung tinggi. Dan efeknya langsung terasa di meja makan kita semua.

Hampir Semua Komoditas Ikut Naik

Yang bikin khawatir, kenaikan ini hampir merata. Dari sereal, daging, susu, sampai minyak nabati dan gula, semuanya ikut terdongkrak. Di antara semuanya, minyak nabati jadi yang paling tajam loncatnya naik 5,1 persen dari Februari, dan melonjak 13,2 persen dibanding Maret tahun lalu.

Lonjakan harga minyak mentah global disebut-sebut jadi biang kerok utama. Imbasnya, harga minyak sawit pun ikut terderek naik.

“Harga minyak sawit internasional sekarang ada di level tertinggi sejak pertengahan 2022, bahkan lebih mahal dari minyak kedelai. Ini jelas efek domino dari harga minyak mentah yang melesat tajam,”

begitu penjelasan FAO dalam rilisnya.

Komoditas lain juga tak ketinggalan. Harga daging, misalnya, indeksnya naik 1 persen bulanan dan 8 persen tahunan. Produk susu juga naik 1,2 persen, meski secara tahunan masih lebih rendah.

Dari Pom Bensin ke Piring Makan

Nah, hubungan antara energi dan pangan ini ternyata lebih rumit. Harga minyak yang tinggi nggak cuma bikin ongkos kirim mahal, tapi juga mengubah strategi produksi. Ambil contoh gula.

Brasil, eksportir gula terbesar dunia, dikabarkan mulai mengalihkan lebih banyak tebu untuk dijadikan etanol. Alasannya sederhana: saat harga minyak mentah mahal, produksi biofuel jadi lebih menggiurkan secara ekonomi. Alhasil, pasokan gula untuk konsumsi pun bisa terpengaruh.

“Belum lagi ada kekhawatiran baru soal dampak konflik di Timur Tengah terhadap jalur perdagangan gula. Ini jadi tekanan tambahan,”

tambah FAO.

Jadi, ceritanya nggak sesederhana panen yang gagal. Ada banyak faktor yang saling terkait, dari geopolitik sampai kebijakan energi, yang akhirnya menentukan berapa harga sekilo gula atau sebotol minyak goreng di pasar. Situasinya memang kompleks, dan efeknya langsung kita rasakan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags