Lalu, di mana letak optimisme itu? Kuncinya ada pada langkah diversifikasi yang sudah diambil pemerintah. Indonesia tidak lagi menggantungkan pasokan minyaknya hanya pada satu kawasan. Timur Tengah penting, tapi bukan satu-satunya.
“Kita impor dari Afrika Barat, kita bisa impor juga dari Rusia dan AS, artinya bahwa tanpa Selat Hormuz ke depan pun kita tidak akan bermasalah,” tegas Boni.
Di sisi lain, komunikasi diplomatik dengan negara-negara pemasok alternatif ini juga diklaim berjalan lancar. Baik dengan raksasa energi seperti Rusia dan Amerika Serikat, maupun dengan tetangga dekat seperti Brunei dan Malaysia. Jaringan pasokan yang lebih luas ini memberikan ruang gerak.
Jadi, meski badai ketegangan mungkin mengamuk di Teluk Persia, Indonesia punya lebih banyak pilihan sekarang. Tekanan pasti ada, tapi ruang untuk bertahan dan menjaga ketahanan energi nasional masih terbuka lebar. Situasinya perlu diwaspadai, tapi bukan untuk dikhawatirkan secara berlebihan.
Artikel Terkait
Herdman Soroti Minim Kreativitas, Nantikan Miliano dan Marselino
Puspom TNI Ajukan Permintaan Resmi untuk Periksa Andrie Yunus di Bawah LPSK
Menteri ESDM Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Proyeksi Surplus Solar dengan B50
Presiden Prabowo Berduka, Tiga Pasukan Perdamaian TNI Gugur di Lebanon Selatan