Haedar Nashir Kutuk Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI, Salah Satunya Kader Muhammadiyah

- Rabu, 01 April 2026 | 00:00 WIB
Haedar Nashir Kutuk Serangan Israel yang Tewaskan Prajurit TNI, Salah Satunya Kader Muhammadiyah

Duka dari Auditorium UMJ: Haedar Nashir Berduka atas Gugurnya Pasukan Perdamaian

Suasana di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Selasa (31/3) lalu, mendadak hening. Di tengah acara Silaturahmi Idulfitri, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan kabar duka yang menusuk. Tiga prajurit TNI, bagian dari pasukan perdamaian di Lebanon, gugur. Mereka jadi korban serangan Israel.

“Kami menyampaikan duka yang mendalam,” ucap Haedar, suaranya berat.

“Kami mengutuk segala bentuk kekerasan dan penindasan,” tegasnya lagi.

Rupanya, di antara prajurit yang gugur itu ada seorang kader Muhammadiyah. Dia adalah Praka Farizal Rhomadhon, pemuda asal Kulon Progo, Yogyakarta. Kabar ini tentu saja menambah dalam kepedihan yang dirasakan.

Bagi Haedar, peristiwa memilukan ini bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia melihatnya sebagai bagian dari gambaran dunia yang lebih suram. Di satu sisi, peradaban modern dinilainya gagal. Di sisi lain, situasi global justru bergerak ke arah bencana. Lihat saja, kekerasan dimana-mana, genosida, sampai hukum internasional yang tak berdaya. Semua itu, menurutnya, jadi bukti nyata.

“Ini menunjukkan cita-cita besar peradaban modern belum sepenuhnya tercapai,” tutur Haedar.

“Sekecil apa pun peran kemanusiaan tetap penting untuk menjaga peradaban,” imbuhnya, menekankan bahwa kontribusi sekecil apapun tetap punya arti.

Lalu, di tengah kondisi dunia yang carut-marut, bagaimana posisi Indonesia? Haedar kembali menegaskan komitmen Muhammadiyah. Organisasi ini akan tetap berpegang pada keputusan Tanwir Makassar 2015. Pancasila adalah konsensus final, darul ahdi wa syahadah, tempat bermuara segala ikrar dan kesaksian kebangsaan.

Artinya, Muhammadiyah tak akan bergeser dari garis perjuangan menjaga Negara Pancasila. Nilai-nilai kebangsaan, agama, dan kebudayaan harus tetap dijaga bersama.

“Indonesia sebagai negara dengan dasar Pancasila harus kita jaga sebagai hasil konsensus nasional,” serunya.

Ia menambahkan, peran Muhammadiyah ke depan harus tetap signifikan. Bukan hanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi juga dalam bekerja sama dengan semua pihak. Tujuannya jelas: mengawal bangsa menuju Indonesia yang benar-benar bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Itu janji yang harus dipegang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar