Kuwait Tuduh Iran Serang Kapal Tanker Minyaknya di Dekat Dubai

- Selasa, 31 Maret 2026 | 23:20 WIB
Kuwait Tuduh Iran Serang Kapal Tanker Minyaknya di Dekat Dubai

Kebakaran tiba-tiba melanda sebuah kapal tanker minyak di dekat Pelabuhan Dubai. Sumber resmi Kuwait dengan cepat menuding Iran sebagai dalang di balik serangan ini. Menurut mereka, aksi ini adalah balasan atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya menyasar wilayah Iran.

"Kapal tanker minyak mentah raksasa Kuwait menjadi sasaran serangan langsung dan jahat Iran saat berada di area jangkar Pelabuhan Dubai di UEA,"

Demikian pernyataan perusahaan minyak negara Kuwait yang dikutip oleh kantor berita KUNA. Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Api yang berkobar pun berhasil dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran Dubai.

Meski begitu, kerusakan material dilaporkan cukup parah. KUNA menyebut lambung kapal mengalami kerusakan dan dikhawatirkan terjadi tumpahan minyak di perairan sekitarnya. Namun, otoritas Uni Emirat Arab membantah klaim tumpahan minyak tersebut.

Lalu, bagaimana serangan ini terjadi? Sebelumnya, otoritas UEA mengindikasikan kapal tanker itu diserang oleh drone. Seluruh awak kapal, sebanyak 24 orang, dilaporkan selamat.

Di sisi lain, situasi tampaknya tak sesederhana itu. Militer Kuwait mengaku pada hari Selasa bahwa pertahanan udaranya sempat menanggapi "serangan rudal dan drone musuh". Pernyataan ini mereka unggah di platform media sosial X, menambah gambaran tentang ketegangan di kawasan itu.

Kapal yang diserang diidentifikasi sebagai Al Salmi. Ini adalah kapal tanker minyak mentah raksasa berbendera Kuwait, dengan panjang mencapai 332 meter. Saat diserang, kapal ini sedang bermuatan penuh.

Badan intelijen maritim Vanguard melaporkan lokasi kejadian sekitar 31 mil laut di barat laut Dubai. Kapal itu "terkena proyektil yang tidak dikenal," tulis mereka. Sementara itu, data dari pelacak kapal MarineTraffic menunjukkan Al Salmi sedang dalam pelayaran menuju Qingdao, Tiongkok.

Muatan yang dibawanya? Sekitar dua juta barel minyak mentah. Nilainya tentu sangat besar, dan insiden ini pasti akan menimbulkan gelombang kecemasan di pasar energi global.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar