Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan kesiapannya untuk menerapkan kerja dari rumah atau WFH bagi ASN. Kebijakan ini rencananya berlaku satu hari dalam seminggu, sebagai bagian dari langkah penghematan energi. Latar belakangnya adalah situasi global yang memanas, terutama konflik antara Iran dan Amerika Serikat, yang berdampak pada pasokan dan harga energi.
“Secara prinsip, Pemerintah DKI Jakarta akan mengikuti apa yang menjadi arahan dan peraturan dari pemerintah pusat,” ujar Pramono.
Pernyataan itu disampaikannya kepada para wartawan di gedung DPRD DKI, Senin lalu. Menariknya, Pramono langsung memberi catatan tentang hari pelaksanaannya. Menurut dia, Rabu kemungkinan besar bukan pilihan.
Alasannya sederhana: Rabu sudah jadi hari dimana seluruh ASN di lingkungan Pemprov DKI diwajibkan naik transportasi umum. “Mengenai hari, tentunya bukan hari Rabu. Karena hari Rabu itu hari untuk transportasi umum,” tambahnya. Jadi, sekarang tinggal menunggu keputusan final dari pusat.
Sebelum Pramono angkat bicara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah lebih dulu mengisyaratkan kebijakan serupa. Pemerintah pusat, kata dia, akan segera mengumumkan aturan WFH ini. Tujuannya jelas, merespons gejolak di Timur Tengah yang dinilai kian mengkhawatirkan.
Namun begitu, Purbaya menegaskan bahwa produktivitas kerja tidak boleh terganggu. Kuncinya ada pada penerapan yang cermat.
“Enggak (ganggu produktivitas) kalau kita pilih dengan cermat,” tegasnya.
Pernyataan itu dia sampaikan usai menghadiri rapat terbatas di Istana bersama Presiden Prabowo Subianto, Kamis pekan lalu. Purbaya bahkan punya usulan konkret: hari Jumat. Menurutnya, Jumat adalah hari kerja yang relatif pendek, sehingga potensi penghematan BBM-nya bisa signifikan.
“Kalau kita pilih hari Jumat, itu kan hari pendek. Jadi pasti ada penghematan BBM berapa persen,” jelas Purbaya.
Jadi, skenarionya mulai jelas. Pemerintah pusat sedang menyiapkan payung hukumnya, sementara pemerintah daerah seperti DKI sudah bersiap-siap. Pilihan harinya pun mulai dibahas, dengan Jumat dan selain Rabu sebagai opsi yang mencuat. Semua ini, pada intinya, adalah langkah antisipatif. Menghadapi ketidakpastian global, langkah kecil seperti mengubah pola kerja sehari dalam seminggu bisa jadi bagian dari solusi.
Artikel Terkait
Nico Paz Tolak Kembali ke Real Madrid, Pilih Bertahan di Como
BRI Salurkan 5.000 Hewan Kurban di Momentum Iduladha 2026
Pentagon Revisi Data Korban Operasi Epic Fury: 14 Tentara AS Tewas dalam Konflik dengan Iran
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram