Dampaknya sudah merambat kemana-mana. Kenaikan harga energi ini mulai terasa di kantong belanja, mendongkrak biaya makanan dan transportasi. Alhasil, ekspektasi inflasi terdorong naik dan sentimen konsumen pun tertekan. Suasana jadi makin suram.
Nah, soal pergerakan harga, Vladimir Zernov dari FX Empire kasih analisis teknikal. Minyak jenis WTI berhasil bertahan di atas level kunci USD97,00-USD97,50. Dengan posisi itu, peluang untuk ngetes level psikologis USD100,00 terbuka lebar. Kalau tembus, Zernov lihat potensi kenaikan lanjutan menuju area USD102,00-USD102,50.
Brent juga tak kalah kuat. Kontrak ini bertahan di atas USD112,00 dan berpeluang lanjut menguat. Target berikutnya ada di kisaran USD118,50-USD119,00, yang kebetulan merupakan level puncak dalam beberapa tahun belakangan. Zernov mengakui indikator RSI sudah mendekati jenuh beli, tapi momentum naik dalam jangka pendek masih terlihat kuat.
Tapi ya, semua analisis teknikal itu bisa berantakan kalau faktor geopolitik main hantam. Ketika pasokan fisik benar-benar terganggu oleh konflik, grafik dan indikator seringkali kehilangan taringnya. Itu yang harus diingat.
Secara angka, WTI ditutup melonjak 5,5 persen ke USD99,64 per barel, naik 1,3 persen untuk sepekan. Sementara Brent menguat 4,2 persen ke USD112,57 per barel, dengan kenaikan mingguan 0,3 persen.
Artikel Terkait
Indeks Bisnis-27 Anjlok 1,37%, AMRT dan BBCA Tekan Pasar
Bank Raya Luncurkan Pinang Flexi, Solusi Kredit Digital untuk Kebutuhan Pascalebaran
Polisi Imbau Warga Antisipasi Macet Parah di Sekitar GBK Sore Ini Jelang Final Timnas
Analis Proyeksikan Pergerakan IHSG Sideways di Pekan Perdagangan Singkat