Intinya, semua data pengamatan mengarah pada satu kesimpulan: tekanan di bawah tubuh Slamet sedang naik. Tekanan inilah yang memicu gempa-gempa dangkal dan, tentu saja, meningkatkan kemungkinan terjadinya letusan. Situasinya memang mencekam.
Namun begitu, status resminya belum berubah. Hingga laporan ini dibuat, tingkat aktivitas Gunung Slamet masih bertahan di Level II atau Waspada. Rekomendasinya tetap: jauhi zona bahaya.
Lana menegaskan kembali larangan itu.
“Menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Slamet dan potensi erupsi, agar radius rekomendasi bahaya 2 km dari puncak Gunung Slamet tidak ada aktivitas wisatawan atau pendakian. Karena erupsi dapat terjadi sewaktu-waktu, utamanya untuk mencegah adanya korban apabila terjadi erupsi,” pungkasnya.
Gunung Slamet sendiri bukanlah gunung sembarangan. Dengan ketinggian sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut, gunung strato berbentuk kerucut ini menjulang megah. Secara administratif, ia berada di wilayah lima kabupaten di Jawa Tengah: Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga. Kini, ketenangan gunung itu sedang diuji.
Artikel Terkait
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor
Paus Leo XIV Tegaskan Tuhan Menolak Doa Para Pencetus Perang
Rudal Iran Hantam Pabrik Kimia di Beersheba, Kebakaran Hebat Meluas
Diplomat Rusia Yakin Iran Akan Transparan Soal Insiden Radiasi