Dan untuk pemain yang posisinya selalu jadi benteng terakhir, ketenangan mental itu segalanya.
Siap Memimpin Garuda?
Semua pelajaran berharga itu kini ia bawa pulang ke Timnas Indonesia. Kemampuan membaca permainan, komunikasi yang lebih lantang, dan kepala yang dingin di situasi panas, adalah aset berharga untuk skuad Garuda.
Di sisi lain, sifat vokal yang kini melekat padanya berpotensi mengantarkannya jadi sosok pemimpin di lini belakang. Ia nggak cuma mau jadi pemain bagus untuk diri sendiri.
"Saya ingin bisa membagikan ilmu yang saya dapat di sini kepada rekan-rekan di timnas," tegasnya.
Itu sinyal yang bagus, bukan? Kehadiran pemain dengan pengalaman internasional seperti Baggott, plus kemauannya untuk berbagi, bisa jadi katalis untuk peningkatan kualitas tim secara keseluruhan. Ia berpeluang jadi salah satu pilar penting proyek jangka panjang Indonesia.
Jadi, meski perjalanannya di Ipswich belum dipenuhi menit bermain, proses yang dijalani Baggott justru membentuk fondasi yang kokoh. Ia kembali lebih matang, lebih berani bersuara, dan jelas lebih siap.
Kalau tren perkembangan ini terus berlanjut, besar kemungkinan Elkan Baggott akan menjadi nama yang tak tergantikan di jantung pertahanan Indonesia baik sebagai penggawa utama maupun sosok yang memberi komando.
Artikel Terkait
Pria di Medan Tikam Tetangga Hingga Luka Berat, Motifnya Debu dari Sapuan Lantai
Pelatih Baru Timnas Indonesia Janjikan Lolos ke Piala Dunia dalam Empat Tahun
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pimpin Inisiatif Perdamaian di Islamabad di Tengah Eskalasi Konflik
Arus Balik Lebaran di Jalan Layang MBZ Mulai Melandai pada H+7