“Koordinasi dan komunikasi harus terus diperkuat,” tutur Aan. Tujuannya jelas: setiap potensi kepadatan bisa diantisipasi sejak dini.
Namun begitu, persiapan tak cuma soal tempat menampung kendaraan. Jumlah kapal penyeberangan juga disesuaikan untuk menjawab lonjakan. Pada hari biasa, ada 28 kapal yang siap beroperasi. Saat padat, jumlahnya naik jadi 30 unit. Kalau sudah sangat padat, bisa sampai 32 kapal.
Bahkan, dalam skenario terburuk, armada bisa ditambah lagi menjadi 35 hingga 40 kapal. Mereka juga menyiapkan kapal bantuan berkapasitas besar sebagai cadangan.
Data dari ASDP Indonesia Ferry sampai H 3 Lebaran menunjukkan, sudah 41.526 kendaraan yang berhasil menyeberang ke Bali. Angkanya cukup besar, tapi ternyata masih ada sekitar 114.255 kendaraan atau sekitar 73 persen yang belum melakukan penyeberangan.
Dengan situasi seperti ini, puncak arus balik diprediksi bakal terjadi pada H 6, atau tanggal 28 Maret 2026 mendatang. Semua pihak tentu berharap strategi buffer zone dan penambahan kapal ini bisa meredam kemacetan panjang. Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Ribuan Suporter Timnas Indonesia Padati GBK Jauh Sebelum Laga Kontra Saint Kitts and Nevis
KAI Logistik Catat Lonjakan 57% Pengiriman Hewan Peliharaan Saat Mudik Lebaran
Arus Balik Lebaran via Kereta Api Masih Padat, Diperkirakan Bertahan hingga Akhir Pekan
Arus Balik Lebaran Masih Padat, Stasiun Pasar Senen Dipenuhi Penumpang Datang