Gelombang arus balik Lebaran di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk mulai terasa. Setelah antrean panjang sempat membuat ruas jalan macet hingga 20 kilometer dari pelabuhan, Kementerian Perhubungan kini menggenjot strategi. Fokusnya? Mengoptimalkan fungsi buffer zone alias zona penampungan dan sistem penundaan.
“Kesiapan buffer zone harus dimanfaatkan secara optimal untuk mengurai antrean kendaraan,” tegas Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, Kamis lalu.
Menurutnya, ini adalah pelajaran berharga dari situasi arus mudik sebelumnya. Intinya, jangan sampai kejadian horor macet itu terulang lagi.
Di lapangan, pengaturan akan mengandalkan mekanisme Tiba-Bongkar-Berangkat. Mereka juga punya patokan teknis, yaitu volume to capacity ratio atau rasio V/C maksimal 0,6. Artinya, keputusan operasional harus diambil dengan cepat dan responsif. Tidak bisa lambat. Kondisi di lapangan bisa berubah sewaktu-waktu.
Lalu, di mana saja kendaraan akan ditampung? Rencananya, untuk mobil pribadi dan bus, buffer zone-nya ada di kawasan Grand Watudodol dan Kantong Parkir Bulusan. Sementara itu, truk dan kendaraan barang lain akan diarahkan ke zona Sri Tanjung serta kantong parkir milik PT Pusri dan Pelindo.
Artikel Terkait
Ribuan Suporter Timnas Indonesia Padati GBK Jauh Sebelum Laga Kontra Saint Kitts and Nevis
KAI Logistik Catat Lonjakan 57% Pengiriman Hewan Peliharaan Saat Mudik Lebaran
Arus Balik Lebaran via Kereta Api Masih Padat, Diperkirakan Bertahan hingga Akhir Pekan
Arus Balik Lebaran Masih Padat, Stasiun Pasar Senen Dipenuhi Penumpang Datang