Arahan itu menjadi kompas. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menjaga sumber daya alam sebagai aset strategis. Artinya, kebijakan produksi tidak boleh hanya memikirkan keuntungan sesaat. Faktor keberlanjutan dan ketahanan sumber daya untuk masa depan justru lebih penting.
Dengan pendekatan hati-hati ini, harapannya stabilitas harga bisa dipertahankan. Sementara itu, ruang untuk memaksimalkan produksi tetap ada, meski harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat kondisi global yang masih fluktuatif.
Sebelumnya, Kementerian ESDM sebenarnya sudah memangkas target produksi lewat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026. Produksi batu bara ditetapkan di bawah 600 juta ton. Untuk nikel, angkanya dibatasi pada kisaran 250 hingga 260 juta ton.
Jadi, wacana relaksasi yang kini mengemuka akan sangat terukur. Semuanya bergerak dalam kerangka yang sudah ditetapkan, dengan satu tujuan utama: menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
Artikel Terkait
Korban Tewas Kecelakaan Mudik Lebaran 2026 Turun 30 Persen
1.528 SPPG Disuspensi, Tren Penutupan Turun Usai Peningkatan Kepatuhan SLHS
Prabowo dan Menteri Bahas Percepatan Program Sampah Jadi Energi
Analis Prediksi Harga Pertalite Berpotensi Naik 10-15 Persen