Hingga kini, pihak bursa seperti Intercontinental Exchange (ICE) dan CME Group memilih diam, tidak berkomentar soal gejolak ekstrem itu. Begitu pula dengan regulator seperti SEC dan CFTC, maupun Gedung Putih. Semuanya belum angkat bicara.
Meski sempat terpental, harga minyak sebenarnya masih bertahan di level tinggi. Faktanya, harga saat ini masih lebih dari 40 persen di atas level sebelum konflik Timur Tengah memanas akhir Februari lalu. Pasokan global yang terpangkas akibat konflik tetap jadi penopang utama.
Yang jelas, volatilitasnya sudah beda jauh. Rata-rata harian perdagangan Brent sebelum konflik cuma sekitar 300.000 lot. Tapi dalam empat pekan terakhir, angka itu melonjak drastis, sering menembus lebih dari 1 juta lot per hari. Pasar seperti demam.
Saat ini, Brent berkisar di USD102 per barel. Ketidakpastian masih membayangi, meski ada bisik-bisik negosiasi. Rasanya, setiap kabar dari Washington atau Teheran berikutnya bisa dengan mudah memicu drama baru dalam hitungan menit.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Beckham Putra Siap Perjuangkan Tempat
Marshanda Dukung Proses Pencarian Jati Diri Putrinya Lepas Hijab
Justin Hubner Tiba, Pelupessy dan Tjoe A-On Masih dalam Perjalanan Jelang Laga Timnas
Kemnaker Perintahkan Pengawasan Ketat untuk Tuntaskan Aduan THR