Sudah lebih dari sepekan sejak "Na Willa" hadir di bioskop. Film Lebaran garapan Ryan Adriandhy ini mulai tayang 18 Maret lalu, dan ternyata, animonya cukup kuat. Data terbaru menunjukkan film anak ini sudah disaksikan oleh lebih dari 334 ribu pasang mata.
Respons penonton pun terbilang hangat. Di platform Cinepoint, ratingnya mencapai 8,6, sementara IMDb memberinya 7,9. Angka-angka itu membuat banyak yang berharap "Na Willa" bisa mengulang, atau bahkan menyaingi, kesuksesan fenomenal film Ryan sebelumnya, "Jumbo".
Sebagai pengingat, "Jumbo" sendiri dulu meledak di musim Lebaran 2025. Film animasi itu sukses menggeser "Agak Laen" dan menduduki puncak box office Indonesia. Kini, giliran "Na Willa" yang berusaha memikat hati.
Jangkauan distribusinya luas sekali. Di hari pertama penayangan saja, tersedia lebih dari 1.600 sesi. Film ini mengisi 478 layar di 445 bioskop nasional, termasuk jaringan besar macam Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis. Jadi, hampir pasti mudah ditemui.
Lalu, apa sebenarnya cerita "Na Willa"? Film ini diangkat dari buku karya Reda Gaudiamo. Ia mengisahkan tentang seorang gadis cilik berusia enam tahun yang hidup di sebuah gang kecil di Surabaya. Kehidupan sehari-harinya, yang mungkin terlihat biasa bagi orang dewasa, ternyata penuh petualangan dan keajaiban melalui matanya.
Ryan Adriandhy, sang sutradara, berhasil mengolah novel itu menjadi sebuah narasi visual yang hangat. Pendekatannya emosional. Dunia warna-warni Na Willa dipenuhi detail kecil yang terasa hidup dan personal. Penonton dewasa diajak bernostalgia, sementara anak-anak menemukan cermin dari imajinasi mereka sendiri. Alur ceritanya mengalir lembut, tapi tidak kehilangan daya pikat.
Inti ceritanya sederhana: Na Willa, si gadis kecil yang penuh imajinasi, percaya gang tempat tinggalnya adalah dunia ajaib. Namun, perlahan dunia itu berubah saat teman-temannya mulai bersekolah. Di sinilah Na Willa belajar tentang tumbuh, tentang melepas, tapi tetap mempertahankan rasa ingin tahunya yang polos.
Di balik layar, film ini adalah hasil kolaborasi tim yang sama di balik kesuksesan "Jumbo". Ryan sangat menekankan aspek manusiawi dalam proses kreatif ini. Bahkan, ia dengan tegas menolak penggunaan AI generatif.
Artikel Terkait
Mensos Pastikan Layanan Masyarakat Tak Terganggu Meski Ada Wacana WFH ASN
Mendagri Tito Karnavian: Tak Ada Lagi Pengungsi Banjir Sumbar Tinggal di Tenda
Menaker Perintahkan Pengawas Turun Langsung Tangani Laporan THR yang Belum Dibayar
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran Terjadi 29 Maret 2026