Beijing - Sebuah insiden yang mengganggu keamanan terjadi di kompleks Kedutaan Besar China di Tokyo, Selasa lalu. Seorang pria berhasil menerobos masuk. Yang menarik, pelakunya ternyata seorang letnan dua dari Pasukan Bela Diri Jepang. Dia ditangkap di lokasi oleh staf kedutaan, dan sebuah pisau berbilah 18 cm berhasil diamankan. Untungnya, tak ada korban luka.
Namun begitu, respons Beijing jauh dari kata tenang. Dalam konferensi pers di hari Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan protes keras. Suaranya tegas.
"Insiden ini sekali lagi menyoroti bahaya politik sayap kanan dan neo-militerisme yang merajalela di Jepang," ujarnya.
Menurut Lin, kejadian ini juga memperlihatkan buruknya kebijakan pemerintah Jepang dalam menangani isu-isu sensitif hubungan bilateral kedua negara.
Di sisi lain, informasi dari kepolisian setempat mengungkap detail yang mencemaskan. Pelaku disebut memanjat dinding kedutaan dengan membawa senjata tajam itu. China pun tak tinggal diam. Mereka sudah mengajukan protes resmi melalui jalur diplomatik, baik di Beijing maupun Tokyo.
"Kami menilai insiden ini sangat mengancam keselamatan staf. Ini gangguan terhadap kondisi damai dan martabat kedutaan," jelas Lin Jian lebih lanjut. "Jepang gagal memenuhi kewajiban dasarnya untuk melindungi lokasi dan personel diplomatik."
China mendesak Jepang untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh dan meminta pertanggungjawaban penuh. Lin juga menyentuh soal disiplin Pasukan Bela Diri Jepang yang dinilainya bobrok.
Ada satu klaim dari media Jepang yang dibantah habis-habisan oleh Lin Jian. Beredar kabar bahwa sang penyusup hanya berniat menyampaikan pendapat kepada Duta Besar.
"Pernahkah Anda melihat seseorang membawa pisau, masuk tanpa izin, hanya untuk menyampaikan pendapat?" tanyanya retoris. "Faktanya, dia seorang perwira yang memanjat tembok dengan pisau. Ini ancaman untuk membunuh, yang dilakukan dengan 'mengatasnamakan tuhan'. Jepang harus menanggapi ini dengan serius."
Saat ini, pelaku telah diserahkan ke Kepolisian Metropolitan Tokyo dan menjalani interogasi.
Insiden ini, sayangnya, bukan hal yang terisolasi. Ia datang di tengah hubungan kedua negara yang memang sedang memburuk. Ketegangan memuncak sejak November 2025 lalu, setelah pernyataan kontroversial Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal Taiwan. Saat itu, Takaichi menyebut penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan dapat menciptakan "situasi yang mengancam kelangsungan hidup" bagi Jepang.
Pernyataan itu ditafsirkan sebagai sinyal bahwa Jepang mungkin akan terlibat militer jika terjadi konflik di Selat Taiwan. Beijing pun murka. Serangkaian tindakan balasan diambil: impor produk laut Jepang kembali ditangguhkan, pertemuan pejabat tinggi diputus, hingga imbauan untuk tidak berkunjung atau belajar ke Jepang. China juga berjanji akan membalas tegas setiap keterlibatan militer Tokyo dalam urusan Taiwan.
Jadi, insiden penyusupan ini bagai bensin yang ditumpahkan di atas bara. Ia memperkeruh suasana yang sudah panas. Dan kini, semua mata tertuju pada respons Tokyo selanjutnya.
Artikel Terkait
Peringatan Hari Lahir Pancasila di KPK, Johanis Tanak Tekankan Perdamaian dan Keadilan Global
Kontrak PPPK Paruh Waktu Sulut Diperpanjang hingga 2027, Gaji Setara UMP
10 Sekolah Bertanding di LKBB-PB Bangka Belitung, Rebut Tiket ke Tingkat Nasional
Perbaikan Jalan Amblas Lenteng Agung Capai 70 Persen, Ditargetkan Normal Awal Pekan Depan