Hal itu terasa di banyak adegan. Ambil contoh scene kue cucur, saat Na Willa dan temannya, Farida, masuk ke kamar kakak Farida, Mbak Martini. Sementara kedua anak itu asyik menikmati kue, Mbak Martini justru diliputi keresahan tentang rencana pernikahannya. Ryan jeli menangkap kontras ini: kepolosan anak-anak yang melihat realitas orang dewasa dengan cara mereka yang unik.
Ada juga momen-momen bahagia bermain di tanah lapang bersama geng Krembangan – sebuah pemandangan yang kini langka dan pasti bikin rindu. Keajaiban juga dihadirkan lewat benda-benda sederhana: debu kasur yang berkilau seperti bintang, rintik hujan yang berbinar, atau buku-buku yang seolah beterbangan sendiri di ruang kelas.
Pemerannya pun solid. Luisa Adreena, Freya Mikhayla, dan Azamy Syauqi memimpin pemeranan. Mereka diperkuat oleh nama-nama seperti Arsenio Rafisqy, Irma Rihi, Junior Liem, hingga Ira Wibowo yang memberi kedalaman emosi pada cerita.
Antusiasme sudah terasa sejak screening khusus. Sutradara Riri Riza, misalnya, memuji kedekatan emosional film ini.
Host dan aktor Reza Chandika punya analogi yang menarik.
Tak ketinggalan, musik punya peran besar. Lagu “Sikilku Iso Muni” karya Laleilmanino, yang dinyanyikan oleh Luisa Adreena dan Azamy Syauqi, menjadi jiwa dalam beberapa adegan. Komposer Ofel Obaja berhasil menyelaraskan nada dengan narasi visual.
“Musik menjadi cara kami bercerita,” kata Ryan. Dan pendekatan itu memang berhasil. Setiap adegan, setiap lagu, disatukan oleh ketelitian kru dan imajinasi para pemainnya. Hasilnya? Sebuah film yang terasa hidup, menyentuh, dan sangat manusiawi.
Nadya Kurnia
Artikel Terkait
Mensos Pastikan Layanan Masyarakat Tak Terganggu Meski Ada Wacana WFH ASN
Mendagri Tito Karnavian: Tak Ada Lagi Pengungsi Banjir Sumbar Tinggal di Tenda
Menaker Perintahkan Pengawas Turun Langsung Tangani Laporan THR yang Belum Dibayar
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran Terjadi 29 Maret 2026