Dua insiden serangan anjing terhadap anak-anak terjadi beruntun di Jawa Barat. Cianjur dan Bandung menjadi lokasi kejadian yang membuat warga resah. Mirisnya, korban adalah anak-anak yang sedang dalam perjalanan pulang.
Di Cianjur, seorang bocah perempuan kelas satu SD harus berjuang melawan luka serius. Ia diserang oleh delapan ekor anjing liar. Sementara di Bandung, dua bocah bersaudara jadi sasaran lima anjing besar yang kabur dari rumah pemiliknya. Kondisi mereka sempat memprihatinkan.
Luka Parah di Sekujur Tubuh: Bocah 7 Tahun Diserang 8 Anjing Liar di Cianjur
CS (7) tak menyangka perjalanan pulang sekolahnya di Desa Mekarjaya, Cianjur, Kamis siang lalu, akan berakhir tragis. Saat melintasi area perkebunan, tiba-tiba saja ia dihadang dan diterjang delapan ekor anjing liar. Hewan-hewan itu menggigit dan mengoyak tubuhnya tanpa ampun.
Kepala Desa Mekarjaya, Ahmad Saripudin, mengaku ini kejadian pertama di wilayahnya. Korban langsung dilarikan ke RSUD Sayang untuk mendapat perawatan intensif.
"Kondisi korban masih dalam penanganan intensif. Luka-lukanya cukup parah akibat gigitan," kata Saripudin, Jumat (30/1).
Merespon kejadian ini, warga tak tinggal diam. Anjing-anjing yang berhasil ditangkap langsung dibunuh. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi agar terulang kembali.
"Kita masih menunggu hasil pemeriksaan dari dinas peternakan. Mudah-mudahan saja tidak ada virus rabies," tambah Saripudin.
Dari pihak rumah sakit, Humas RSUD Sayang, Raya Sandi, menyebut korban masih menjalani observasi. Meski gejala rabies belum terlihat, tim medis tetap waspada.
"Serangkaian pemeriksaan laboratorium masih kami tunggu. Untuk memastikan, kita lihat hasilnya nanti," ucap Raya.
Malam yang Mencemaskan: Dua Bocah di Bandung Diserang, Panas Tinggi dan Kejang
Nasib serupa menimpa Arisa dan Kanisa, dua bocah bersaudara di Bandung Kulon. Rabu lalu, mereka diserang sekelompok anjing besar usai jajan bersama kakeknya, Agus.
“Pas di belokan, lihat segerombolan anjing. Awalnya mau ke saya dulu, tapi langsung alih ke cucu, mengenai bagian kepala,” kenang Agus, suaranya masih terdengar bergetar.
Salah satu cucunya mengalami luka gigitan dan harus segera mendapat vaksinasi di RS Pindad. Malam harinya, kondisi si kecil justru memburuk.
“Malamnya panas sampai 39 derajat dan kejang-kejang. Kami bawa lagi ke rumah sakit sampai tengah malam,” cerita Agus. Syukurlah, kondisi korban kini mulai membaik, meski trauma itu masih jelas terasa.
Agus menyebut pemilik anjing sudah datang dan mengakui tanggung jawabnya. Meski begitu, pembicaraan soal biaya perawatan belum tuntas.
“Iya, ada tanggung jawab. Tapi untuk rincian biaya, belum kami hitung karena proses perawatan dan kontrol masih berjalan,” jelasnya.
Kecerobohan yang Berakibat Fatal: Gerbang yang Terbuka
Lalu, bagaimana anjing-anjing besar itu bisa berkeliaran di pemukiman?
Agus mendapat penjelasan dari pemiliknya. Rupanya, ada dua kemungkinan. Pertama, gerbang dibuka oleh tukang rongsok. Kemungkinan kedua dan ini yang paling disayangkan adalah kecerobohan pembantu yang lupa mengunci gerbang.
“Gerbangnya terbuka. Anjing-anjing itu biasanya ditempatkan di garasi, bukan di dalam rumah,” ujar Agus menerangkan.
Pemilik anjing sendiri tinggal di daerah Rajawali, yang lokasinya cukup jauh dari TKP. Setelah kejadian, ia telah menemui keluarga korban dan berjanji akan menanggung segala konsekuensinya.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu