Gus Ipul Soroti 'Orang-Orang yang Tak Terlihat' dalam Kebijakan Pemerintah
Surabaya, Rabu (11/3/2026)
Malam Anugerah LPTNU 2026 di UNUSA Surabaya, Selasa lalu, bukan sekadar acara penghargaan biasa. Suasana hangat memenuhi ruangan, dihadiri para akademisi, staf, dan mahasiswa berprestasi dari lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama. Di tengah kemeriahan itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, hadir sebagai pembicara kunci. Ia membawa pesan yang cukup menyentak, tentang orang-orang yang sering luput dari perhatian kita semua.
Dalam sambutannya, Gus Ipul mengungkap sebuah pesan berulang dari Presiden Prabowo Subianto. Intinya sederhana namun berat: setiap kebijakan harus memprioritaskan mereka yang sering tak terlihat oleh sistem. Kelompok yang disebutnya the invisible people.
"Kita mungkin berpapasan dengan mereka setiap hari, tapi tidak benar-benar melihat kondisi mereka. Bukan karena mereka tidak ada," ujar Gus Ipul.
"Melainkan karena seringkali kita tidak tahu atau tidak sadar bahwa mereka sedang mengalami kesulitan yang sangat berat."
Menurutnya, fenomena ini nyata adanya. Bukan cuma di desa-desa, tapi justru kerap terjadi di tengah gemerlap kota besar. Mereka ada, namun seperti tak tampak. Hidup dalam kesulitan yang tak terpantau.
Banyak dari mereka berasal dari keluarga prasejahtera. Dan yang memilukan, kemiskinan itu seperti warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sebuah siklus yang sulit diputus.
Nah, di sinilah persoalan mendasar muncul. Gus Ipul menyoroti soal data yang selama ini berantakan. Setiap kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah punya datanya sendiri-sendiri. Alhasil, yang muncul adalah ego sektoral. Kerja jadi tak sinergis.
Namun begitu, ada upaya perbaikan. Melalui Inpres Nomor 4, pemerintah kini menyatukan segudang data itu dalam satu sistem terpadu bernama Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Selama setahun terakhir, Kementerian Sosial bersama BPS dan berbagai pihak lain terus berkutat melakukan konsolidasi. Tujuannya jelas: agar semua program bantuan sosial mengacu pada data yang sama, yang lebih akurat.
Dengan data yang lebih baik, pembagian peran antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat bisa dibuat lebih jelas. Tidak tumpang-tindih lagi.
Sebagai bentuk nyata implementasi data tunggal ini, pemerintah meluncurkan program Sekolah Rakyat. Ini adalah upaya untuk memelihara fakir miskin secara terarah dan berkelanjutan, seperti amanat undang-undang. Ke depannya, bukan cuma pemerintah yang dilibatkan. Peluang bagi pihak swasta untuk turut mengembangkan Sekolah Rakyat juga dibuka lebar-lebar.
"Tujuan akhirnya adalah agar anak-anak dari keluarga miskin bisa tumbuh jadi agen perubahan," tutur Gus Ipul menutup paparannya.
"Bukan kembali terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama."
Acara malam itu sendiri berlangsung khidmat. Penghargaan diberikan dalam tiga sesi kepada berbagai kategori. Mulai dari ilmuwan Muslim berpengaruh, penghargaan pengabdian sepanjang hayat, hingga dosen dan mahasiswa berprestasi. Tak ketinggalan, Duta PTNU juga mendapat apresiasi.
Selain Gus Ipul, hadir pula Rektor UNUSA, Prof. Dr. Tri Yogi Yuwono, dan Ketua LPTNU, Prof. Dr. Ainun Na'im. Professor Mohammad Nuh hadir sebagai penerima penghargaan lifetime achievement, menyempurnakan rangkaian acara yang penuh makna itu.
Artikel Terkait
Mendagri Tito Karnavian: Kepala Daerah Berprestasi Jangan Tertutup Isu Hukum Segelintir Oknum
Oman Konfirmasi Laga Uji Coba Lawan Indonesia di FIFA Matchday Juni 2026
Lebih dari Separuh Calon Haji Sumenep Berisiko Tinggi, Didominasi Lansia dan Penyakit Penyerta
Warga dan Tokoh Bahas Ekonomi hingga UMKM dalam Forum Serap Aspirasi Kebangsaan di Batu