BATU Suasana Aula Kantor KPU Kota Batu, Sabtu pagi (25/4/2026), terasa berbeda. Bukan karena ada pemungutan suara atau rapat pleno, melainkan karena puluhan warga berkumpul untuk ngobrol santai soal bangsa. Acara ini namanya Serap Aspirasi Kebangsaan. Temanya cukup puitis: “Merajut Persatuan, Mewujudkan Harapan Bangsa.”
Beberapa tokoh hadir di sana. Ada Staf Khusus Wakil Ketua MPR RI, Drs. H. Kahar Muzakir, yang diwakili oleh Muhammad Wahyu Wibisono. Lalu Ketua DPD Partai Golkar Kota Batu, Didik Machmud. Juga Anggota DPRD Kota Batu, Bambang Sumarto, dan Ketua KPU Kota Batu, Heru Joko Purwanto. Tak ketinggalan, jajaran pengurus serta kader partai berlambang pohon beringin itu ikut memadati ruangan.
Nah, dalam sesi pemaparan, Wahyu Wibisono menyampaikan sesuatu yang menarik. Katanya, nilai-nilai kebangsaan itu nggak melulu soal bendera atau lagu nasional. Lebih dari itu, kata dia, cakupannya luas mencakup ekonomi, kesehatan, dan berbagai sendi kehidupan lainnya.
“Nilai kebangsaan di Kota Batu sudah cukup baik, termasuk dalam sektor perekonomian, kesehatan, dan bidang lainnya,” ujarnya.
Lalu, giliran Didik Machmud angkat bicara. Menurutnya, forum-forum kayak gini penting banget buat nambah pemahaman warga soal kebangsaan. Tapi, dia juga nggak cuma bicara soal teori. Ia langsung menyorot kondisi UMKM di Batu. Pertumbuhannya, kata Didik, memang pesat. Tapi ada yang mengganjal.
“Pertumbuhan UMKM cukup pesat, tetapi tidak diimbangi dengan penguatan produk lokal seperti apel manalagi yang mulai tergeser oleh komoditas lain. Selain itu, sekitar 70 persen pelaku UMKM bukan warga asli Batu,” tegasnya. Nada bicaranya sedikit prihatin, kayaknya.
Di sisi lain, Heru Joko Purwanto Ketua KPU Kota Batu tampak mengapresiasi jalannya acara. Ia bilang, forum serap aspirasi model begini bisa jadi jembatan buat dengerin langsung suara warga. Nggak perlu birokrasi berbelit.
“Apa yang disampaikan para narasumber sangat berkaitan dengan pendidikan pemilih, nilai kebangsaan, dan UMKM. Selama ini kami juga aktif menyampaikan informasi kepemiluan melalui media sosial maupun televisi nasional,” pungkasnya. Singkat, padat, tapi nyambung.
Acara pun berlangsung cair. Ada tanya jawab, ada gelak tawa sesekali. Warga yang datang kelihatan antusias, apalagi pas sesi diskusi soal produk lokal. Beberapa dari mereka bahkan melontarkan ide-ide segar. Ya, setidaknya, hari itu kebangsaan nggak cuma jadi kata-kata di spanduk.
Editor : Redaksi
Artikel Terkait
Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Tekanan Ekonomi Jadi Senjata Utama
Daerah Sumut dan Sumbar Kumpulkan Rp 287 Miliar untuk Pemulihan Aceh Pasca-Bencana
PERKUPI Tegaskan Komitmen Perkuat Asta Cita Presiden demi Harmoni Umat Beragama
Ketua DPRD Magetan Ditahan Kejaksaan atas Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp335,8 Miliar