Tokoh-tokoh yang diajaknya berunding, klaim Trump, adalah figur yang dihormati rakyat Iran dan punya potensi memimpin. Perundingan itu sendiri dikatakan sudah berjalan sejak akhir pekan dan akan berlanjut hari-hari ke depan.
Namun begitu, klaim dari Florida itu langsung ditepis keras oleh Teheran. Kementerian Luar Negeri Iran membantah keras adanya perundingan apa pun dengan Amerika Serikat. Penolakan ini membuat pernyataan Trump terasa seperti narasi satu pihak, sekaligus memperlihatkan jurang yang masih sangat dalam antara kedua negara.
Di sisi lain, sinyal-sinyal dari Trump ini jelas memperkeruh ketegangan geopolitik yang sudah panas. Ia tak cuma bicara kebijakan, tapi seolah menyiapkan panggung untuk sebuah skenario besar: penggantian kekuasaan di Iran. Apakah ini sekadar retorika, atau ada langkah konkret yang sedang disusun bersama sekutu seperti Israel? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang pasti, pernyataan di Florida itu telah menyalakan kembali lampu merah di kawasan Timur Tengah.
Artikel Terkait
Kapolri Perintahkan Antisipasi Cuaca Ekstrem di Jalur Penyeberangan Saat Arus Balik Lebaran
Harga BBM di Jakarta Tetap Stabil Pasca-Lebaran 2026
Herdman Buka Alasan Panggil Elkan Baggott Kembali ke Timnas Indonesia
Openreach Gandeng Google Cloud untuk Percepatan Jaringan Fiber dan Kurangi Emisi Armada