Dan itu belum yang terburuk. Kalau situasi geopolitik makin panas, tekanan terhadap rupiah bisa lebih ganas lagi. Anthony memperkirakan, depresiasi bahkan bisa melampaui 20 persen dalam waktu yang relatif singkat.
“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, tiga hingga enam bulan ke depan,”
ucapnya.
Masalahnya, fondasi ekonomi kita dinilai belum cukup kuat untuk menahan guncangan besar dari luar. Anthony menyoroti kerapuhan di beberapa sektor kunci.
“Fundamental ekonomi, baik fiskal, moneter, dan nilai tukar, sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh. Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,”
pungkasnya.
Jadi, selain memantau perkembangan di Timur Tengah, kita mungkin juga perlu bersiap untuk gelombang tekanan ekonomi yang bisa datang lebih cepat dari perkiraan.
Artikel Terkait
Jasa Marga Tutup Sementara Rest Area KM 52B Arah Jakarta Antisipasi Arus Balik
Arus Balik Lebaran 2026 Diprediksi Capai 285 Ribu Kendaraan di Tol Trans Jawa
Arus Balik Lebaran Padat, Rest Area di Tol Cipali Dikelola dengan Sistem Buka-Tutup
Kebijakan Larangan Truk-Bus di Tol Picu Kemacetan Parah di Pantura Cirebon