Selama libur Natal dan Tahun Baru nanti, Polda DIY punya kebijakan baru soal tilang. Mereka memutuskan untuk meniadakan penindakan pelanggaran lalu lintas secara manual. Jadi, jangan kaget kalau tidak melihat polisi berdiri di pinggir jalan lengkap dengan buku tilang. Kebijakan ini bagian dari Operasi Lilin Progo 2025.
Meski begitu, bukan berarti pengendara bisa seenaknya. Penegakan hukum tetap jalan, cuma caranya yang beda. Ditlantas Polda DIY memastikan, mereka akan lebih mengandalkan kamera ETLE untuk mencatat pelanggaran. Pendekatannya juga lebih ke edukasi, ketimbang langsung menghukum.
Menurut Kombes Pol Yuswanto Ardi, Direktur Lalu Lintas Polda DIY, fokusnya adalah pada pelanggaran yang benar-benar berbahaya.
“Kami hanya akan menindak pelanggaran yang punya potensi besar menyebabkan kecelakaan. Tapi, prioritas utama kami tetaplah mengimbau masyarakat,” jelas Ardi di Mapolda DIY, Jumat kemarin.
“Dan untuk teknisnya, kami andalkan sistem elektronik, ETLE itu. Tidak ada tilang manual di lapangan,” tegasnya.
Selain soal penindakan, antisipasi kemacetan juga jadi perhatian serius. Mereka sudah menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas, terutama di titik-titik wisata yang diprediksi bakal ramai. Kawasan seperti Malioboro, pantai-pantai di Gunungkidul, Parangtritis, sampai Taman Wisata Candi Prambanan akan menjadi perhatian khusus.
“Kami akan meluncurkan petunjuk via QR Code yang bisa di-scan masyarakat. Di dalamnya ada direktif dan titik-titik penting, mulai dari Malioboro, pantai Gunungkidul, Parangtritis, hingga Prambanan,” ujar Ardi memaparkan inovasinya.
Di sisi lain, pengamanan juga dipusatkan di ruas Jalan Solo. Jalur ini kan jadi pintu utama keluar-masuk Yogyakarta. Mereka sudah berkoordinasi dengan Polda Jawa Tengah agar penanganannya selaras. Beberapa putaran balik atau u-turn bahkan akan ditutup sementara. Tujuannya sederhana: mengurangi konflik arus kendaraan yang bisa memicu kemacetan panjang.
Berdasarkan evaluasi tahun lalu, arus kendaraan diperkirakan bakal naik signifikan. Personel sudah disiagakan untuk menghadapi lonjakan ini.
“Data Nataru tahun lalu mencatat sekitar 1,6 juta kendaraan. Tahun ini kami prediksi bakal meningkat, mungkin sampai 50 persen, atau sekitar 2,4 juta kendaraan. Dan kami sudah siap,” tandas Ardi menyebutkan angka-angka yang harus diwaspadai itu.
Artikel Terkait
Anggota IV BPK Haerul Saleh Meninggal Dunia dalam Kebakaran Rumah di Jakarta Selatan
Harga Emas Batangan di Pegadaian Stabil, Investor Wait and See
Pemprov Sulsel Usul Kenaikan Tarif BBNKB dari 7 Persen Menjadi 10 Persen
Bupati Bone Terobos Banjir di Watampone, Borong Kue Pedagang untuk Korban