Korea Utara Siapkan Artileri Jarak Jauh Baru di Perbatasan, Seoul Masuk Jangkauan Serangan

- Jumat, 08 Mei 2026 | 12:55 WIB
Korea Utara Siapkan Artileri Jarak Jauh Baru di Perbatasan, Seoul Masuk Jangkauan Serangan

Korea Utara berencana menempatkan jenis artileri baru di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan, sebuah langkah yang berpotensi menempatkan wilayah Seoul dan sekitarnya dalam jangkauan serangan langsung. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dan permusuhan Pyongyang terhadap Seoul, yang belakangan semakin nyata.

Meskipun pemerintah Korea Selatan sempat menawarkan dialog perdamaian, Korea Utara secara konsisten memperlakukan Seoul sebagai musuh utama. Bahkan, Pyongyang baru-baru ini menghapus referensi lama tentang penyatuan Korea dari konstitusinya, menandai perubahan sikap yang semakin radikal terhadap tetangganya di selatan.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pekan ini mengunjungi sebuah pabrik amunisi untuk meninjau produksi "meriam-howitzer swa-gerak 155 milimeter tipe baru." Hal itu dilaporkan oleh kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, pada Jumat (8/5/2026).

Menurut KCNA, senjata tersebut memiliki jangkauan lebih dari 60 kilometer atau sekitar 37 mil. Rencananya, artileri jarak jauh itu akan dikerahkan tahun ini ke unit-unit yang berada di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan.

Pusat kota Seoul, ibu kota Korea Selatan, terletak sekitar 50 hingga 60 kilometer dari perbatasan. Dengan demikian, sebagian besar wilayah provinsi Gyeonggi provinsi terpadat di Korea Selatan yang menjadi pusat industri utama juga akan berada dalam jangkauan tembak senjata baru tersebut.

KCNA melaporkan bahwa Kim Jong Un menyatakan meriam howitzer itu akan "memberikan perubahan dan keuntungan signifikan bagi operasi darat militer kita."

Sementara itu, perlu dicatat bahwa Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis masih dalam keadaan perang. Konflik tahun 1950 hingga 1953 antara kedua negara hanya berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian, sehingga ketegangan militer di kawasan itu tetap tinggi hingga saat ini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar