Dia meyakini AI akan menjadi permanen, bahkan menjadi inti dari persaingan strategis global antara Amerika Serikat dan China. Menurut Fink, AS jelas-jelas memandang kepemimpinan di bidang AI sebagai sebuah keharusan, yang tentu membutuhkan suntikan dana besar-besaran untuk riset, infrastruktur, dan talenta.
Di sisi lain, para investor mulai waspada. Adopsi AI yang begitu cepat berpotensi mengganggu model bisnis konvensional, khususnya di sektor perangkat lunak lama dan jasa. Ancaman otomatisasi dan pemain baru berbasis AI bisa menekan harga dan pertumbuhan perusahaan yang sudah mapan.
Volatilitas pun meningkat. Ketidakpastian tentang siapa yang akan bertahan dan siapa yang akan jadi pemenang membuat valuasi di sebagian sektor teknologi tertekan. Situasinya jadi serba tidak pasti.
Namun di balik semua tantangan itu, Fink tetap melihat peluang. Dia menutup pandangannya dengan satu poin krusial.
Pertanyaannya sekarang: bisakah kita mendistribusikan kemakmuran dari revolusi ini, atau kita hanya akan menyaksikan kekayaan terkonsentrasi di tangan yang sudah memilikinya? Waktulah yang akan menjawab.
Artikel Terkait
China Batasi Kenaikan BBM Meski Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah
Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Iran Setelah Ancaman Militer
BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Jakarta Sepanjang Hari Ini
Menhub Tegaskan Aturan Pembatasan Truk Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2026