Keluarga Ungkap Anggi, Cucu Mpok Nori, Alami Tiga Kali Keguguran Sebelum Tewas

- Senin, 23 Maret 2026 | 16:15 WIB
Keluarga Ungkap Anggi, Cucu Mpok Nori, Alami Tiga Kali Keguguran Sebelum Tewas

JAKARTA – Duka masih menyelimuti keluarga Mpok Nori. Kematian tragis cucunya, Dwintha Anggary atau Anggi, ternyata menyimpan fakta lain yang tak kalah menyedihkan. Ternyata, sebelum nyawanya direnggut, perempuan malang itu sempat mengalami keguguran hingga tiga kali.

Kabar ini diungkapkan langsung oleh kakak kandung almarhumah, Dian. Ia menceritakan, keguguran yang dialami adiknya itu diduga kuat akibat tekanan batin yang terus-menerus. Anggi hidup bersama pelaku, Fuad, seorang warga negara asing asal Irak.

“Almarhumah keguguran tiga kali. Yang pertama 3 bulan, 6 bulan, sama 8 bulan. Jadi sampai sekarang belum ada anaknya,” ujar Dian di Cipayung, Jakarta Timur, Senin (23/3/2026).

Suaranya terdengar berat. Menurut Dian, tekanan psikis itulah yang diduga menggerogoti kesehatan Anggi. Meski begitu, keluarga mengaku tak punya kepastian apakah Anggi juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Urusan rumah tangga, katanya, seringkali tertutup bagi orang luar.

“Kalau untuk masalah KDRT, saya nggak tahu. Namanya berkeluarga, masing-masing,” tuturnya.

Lalu ia melanjutkan, “Tapi yang ini mah (keguguran) psikisnya dia. Ya, kalau nggak psikisnya kan nggak mungkin anaknya keguguran tiga kali. Stres atau bagaimana sih nggak ngerti.”

Di tengah kesedihan yang bertumpuk, keluarga harus mengambil keputusan lain yang tak kalah pelik: soal pemakaman. Rencana awal memakamkan Anggi di TPU Bambu Apus akhirnya batal. Alasannya, lokasi itu rawan terendam banjir.

Pilihan akhir jatuh pada pemakaman keluarga di Pondok Ranggon. Namun, di sana pun tempat sudah sempit. Akhirnya, dengan berat hati, jenazah Anggi dimakamkan dalam satu liang lahat bersama sang ayah. Lokasinya tak jauh dari pusara sang nenek, Mpok Nori.

“Pertimbangannya karena di makam Pondok Ranggon sudah agak penuh, jadi mau nggak mau pertimbangannya ya tumpuk sama Bapak gitu,” jelas Dian, mencoba menerangkan situasi sulit yang mereka hadapi.

Hingga saat ini, suasana duka masih terasa sangat pekat. Keluarga besar, terutama ibu Dian, belum siap untuk banyak berbicara. Luka itu masih terlalu dalam.

“Intinya keluarga masih berduka, ya. Jadi, ibu saya juga untuk komunikasi sama rekan-rekan sekalian masih kurang enak gitu ya,” pungkas Dian, mengakhiri percakapan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar