“Kadang was-was kalau ada transaksi yang meragukan atau takut kena tipu. Tapi syukurnya, kita dapat pendampingan dari BRI untuk mengenali pola-pola penipuan. Jadi, kita bisa lebih hati-hati dan teliti dalam setiap transaksi.”
Pengalaman lebih dari sepuluh tahun mengajar Rieche banyak hal. Ia belajar untuk cermat, sabar, dan yang terpenting, menjaga kepercayaan yang sudah diberikan warga.
Di sisi lain, bagi Rieche, kesuksesan bukan cuma dilihat dari angka transaksi yang naik. Ada kepuasan lain yang lebih dalam. Ia bersyukur karena usaha kecilnya ternyata memberi dampak riil bagi lingkungan.
“Alhamdulillah dampaknya kerasa banget,” katanya.
“Usaha ini berkembang, dikenal banyak orang, dan bahkan bisa buka lapangan kerja. Saya sudah bisa merekrut anak-anak muda di sini. Harapannya sih, bisa mengajak lebih banyak orang lagi untuk maju bersama.”
Pihak bank pun mengapresiasi peran agen seperti Rieche. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menilai kontribusi mereka melampaui sekadar layanan transaksi.
“Ini gambaran nyata bagaimana kolaborasi bank dengan masyarakat bisa mendorong inklusi keuangan,” jelasnya.
“Sekaligus memperkuat ekonomi akar rumput dan membangun kemandirian desa yang berkelanjutan.”
Memang, upaya menghadirkan layanan keuangan hingga ke pelosok terus digencarkan. Hingga akhir 2025, jumlah BRILink Agen telah menembus lebih dari 1,1 juta titik. Mereka tersebar di lebih dari 66 ribu desa, menjangkau lebih dari 80 persen wilayah negeri. Volume transaksinya pun fantastis, mencapai Rp1.746 triliun.
Cerita Rieche mungkin hanya satu dari sekian juta. Tapi, dari dusun terpencil di Sumbawa itu, terlihat jelas bagaimana akses keuangan yang inklusif bisa mengubah banyak hal satu transaksi dalam satu waktu.
Artikel Terkait
Kolev Sarankan Herdman Utamakan Pemain Lokal di FIFA Series Jakarta
Puncak Arus Balik Lebaran di Lingkar Gentong Diprediksi H+2 dan H+3
Cucu Mpok Nori Tewas Dibunuh Mantan Suami Siri di Kontrakan
Arus Mudik Lebaran 2026 Meningkat 9,23%, Lebih dari 10 Juta Orang Gunakan Angkutan Umum