Bagi kebanyakan orang, gemuruh takbir dan aroma ketupat adalah tanda telah tiba saatnya berkumpul. Idulfitri, ya, momen itu. Saat sukacita dan rindu akhirnya terbayar dalam pelukan keluarga. Tapi coba tengok ke Pelabuhan Merak. Di sana, di atas geladak kapal yang siap berlayar, ada seorang lelaki bernama Cecep Ahmaydi.
Sudah 25 tahun Lebaran baginya punya arti yang berbeda. Bukan tentang duduk manis di rumah, melainkan tentang memegang kemudi. Sejak 2008 ia menjadi nahkoda, dan totalnya sudah seperempat abad ia tak pernah merasakan lebaran di tengah sanak saudara. “Pelayanan itu yang utama,” ujarnya, ditemui di atas KMP Sebuku akhir pekan lalu.
“Tugas kita kan begitu. Biar nggak berlebaran, yang penting para pemakai jasa bisa kita hantarkan ke seberang.”
Suaranya tenang, menerima. Bagi Cecep, mengantarkan pemudik yang masih terdampar di perjalanan saat hari raya tiba adalah wujud loyalitas. Sebuah bentuk profesionalitas yang ia jalani dengan ikhlas. “Kita sudah terbiasa,” katanya lagi. Tugasnya memang tak kenal hari libur: menghubungkan Merak dan Bakauheni, bolak-balik, tak peduli tanggal merah di kalender.
Namun begitu, di balik ketegasan itu ada sesuatu yang selalu tersisa. Kerinduan. Ia mengaku, setiap mendengar lantunan takbir, hatinya selalu tertarik pulang. Terbayang wajah anak-anak yang menunggu. “Oh, pastinya seperti itu. Manusiawi,” ucapnya dengan senyum getir. “Kita tetap ada rasa kangen.”
Anak-anaknya pun kerap meminta. Mohon agar sang ayah bisa satu meja makan saat hari yang fitri. Tapi Cecep hanya bisa menghela napas. Tuntutan pekerjaan, tanggung jawab pada ribuan penumpang, membuatnya harus menepikan kerinduan itu. “Ada keinginan, tapi karena tugas utama kita memberikan pelayanan, ya itu yang harus dijalani,” tuturnya.
Dari semua pengorbanan itu, harapannya sederhana saja. Ia ingin setiap penumpangnya tiba dengan selamat. Cuaca baik, kapal sehat, dan semua proses penyeberangan berjalan lancar serta tertib. Itulah ‘salam Lebaran’-nya: sebuah perjalanan aman menuju pelukan keluarga orang lain.
Sedangkan pelukannya sendiri, masih harus ditunda.
Artikel Terkait
Trump Buka Peluang Kirim Pasukan Darat ke Iran untuk Amankan Material Nuklir
PBNU Sebut Kasus Pemerkosaan Santriwati di Pati sebagai Pengkhianatan Amanah Pendidikan
Tiga Remaja Diamankan Polisi di Parung karena Diduga Hendak Tawuran Antar-Sekolah
Pemerintah Siapkan Insentif untuk 100 Ribu Mobil dan 100 Ribu Motor Listrik