Trump Buka Peluang Kirim Pasukan Darat ke Iran untuk Amankan Material Nuklir

- Rabu, 06 Mei 2026 | 09:15 WIB
Trump Buka Peluang Kirim Pasukan Darat ke Iran untuk Amankan Material Nuklir

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk pertama kalinya membuka kemungkinan pengerahan pasukan darat ke Iran dengan tujuan mengamankan material nuklir yang diyakini masih terkubur di bawah reruntuhan lokasi yang sebelumnya menjadi sasaran serangan udara. Pernyataan ini menandai potensi eskalasi baru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

“Sekarang kami akan mengambil tindakan, karena kami harus melakukan perjalanan ke Iran untuk mengambil senjata nuklir itu,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa lalu. Ia merujuk pada uranium yang diperkaya dan dilaporkan masih terjebak di bawah puing-puing setelah operasi pemboman gabungan yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membenarkan bahwa material tersebut masih berada “di bawah reruntuhan” dan belum ada rencana segera untuk memulihkannya. Pengakuan ini memperkuat klaim Trump bahwa serangan udara sebelumnya telah “menghancurkan sepenuhnya” kemampuan nuklir Iran, meskipun material berbahaya itu belum sepenuhnya diamankan.

Trump menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat terus memantau lokasi tersebut secara ketat untuk mencegah Teheran mengambil kembali material nuklirnya. Sementara itu, tekanan Washington terhadap Iran meningkat melalui kombinasi ancaman militer dan sanksi ekonomi berskala luas.

Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa kepemimpinan Iran memahami konsekuensi dari setiap langkah eskalasi. Ia memperingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap gencatan senjata yang rapuh akan memicu respons tegas dari Amerika Serikat. “Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan,” ujarnya.

Retorika Trump semakin keras ketika ia menyebut Iran “seharusnya menyimpan bendera putih tanda menyerah.” Ia menambahkan, “Jika ini sebuah pertarungan, mereka akan menghentikannya.” Di sisi lain, ia menilai tekanan ekonomi di dalam negeri Iran ditandai dengan inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang menjadi bukti bahwa sanksi Amerika Serikat mulai membuahkan hasil.

Meskipun menggunakan bahasa yang keras, Trump menegaskan bahwa Washington tetap ingin menghindari pertumpahan darah lebih lanjut. Ia mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan. “Mereka harus melakukan hal yang cerdas, karena kami tidak ingin masuk dan membunuh orang. Benar-benar tidak ingin,” katanya.

Pernyataan ini muncul di tengah upaya Washington yang terus mendorong Iran ke meja perundingan, namun dengan ancaman militer yang tetap menggantung di atas kepala. Gencatan senjata yang ada saat ini dinilai masih sangat rapuh dan dapat runtuh kapan saja jika salah satu pihak mengambil langkah yang dianggap provokatif.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar