Stiglitz Peringatkan Ancaman Stagflasi di AS Akibat Eskalasi Perang Timur Tengah

- Minggu, 22 Maret 2026 | 01:30 WIB
Stiglitz Peringatkan Ancaman Stagflasi di AS Akibat Eskalasi Perang Timur Tengah

Ekonomi Amerika Serikat sedang di ujung tanduk. Ancaman stagflasi kombinasi suram antara pertumbuhan mandek dan inflasi tinggi kini semakin nyata, didorong oleh eskalasi perang di Timur Tengah. Demikian peringatan keras dari Joseph Stiglitz, ekonom peraih Nobel asal AS.

Menurut Stiglitz, sebenarnya tanda-tanda pelemahan ekonomi sudah terlihat sebelum konflik dengan Iran memanas akhir Februari lalu. "Ada sejumlah indikator yang menunjukkan pertumbuhan melambat sebelum perang," katanya dalam sebuah wawancara.

Ia tak menampik bahwa situasi kini jauh lebih runyam. Perang praktis mematikan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur vital yang biasa dilalui seperlima pasokan minyak mentah dunia. Imbasnya, harga minyak global melonjak 40 hingga 50 persen. Lonjakan ini dipicu blokade Iran di selat tersebut serta serangan terhadap aset energi dan perkapalan di Teluk, yang mereka sebut sebagai balasan atas serangan AS-Israel.

Guncangan di pasar energi ini memicu kekhawatiran baru. Sistem perdagangan global, yang sudah tertekan oleh kebijakan tarif Donald Trump, fragmentasi rantai pasokan pasca pandemi, dan perang Rusia-Ukraina, mendapat beban tambahan yang berat.

Bagi Stiglitz, AS adalah negara yang paling rentan. Profesor Universitas Columbia ini mengingatkan pada era 1970-an, ketika guncangan harga minyak memicu stagflasi parah. "Risiko stagflasi tampaknya cukup tinggi bagi AS," ujarnya. Pengalamannya sebagai kepala ekonom Bank Dunia dan ketua dewan penasihat ekonomi di era Presiden Bill Clinton membuat analisisnya sulit diabaikan.

Namun begitu, situasi di kawasan lain belum tentu sama. Stiglitz menilai prospek untuk negara-negara di luar AS tidak begitu jelas, bergantung pada struktur dan ketahanan ekonomi masing-masing.

Jadi, ancamannya nyata. Dan semua mata kini tertuju pada bagaimana pemerintah AS merespons badai ekonomi yang mungkin akan segera datang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar